02 June 2020, 11:39 WIB

Donald Trump Ancam Mobilisasi Militer untuk Redam Unjuk Rasa


Deri Dahuri | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya mulai putus asa dalam mengatasi aksi unjuk rasa yang diwarnai kekerasan dan penjarahan terkait protes kematian warga kulit hitam George Flyod oleh polisi kulit putih Derek Chauvin tak menunjukkan mereda.

Pada Senin (1/5) waktu setempat, Trump memberi peringatan dengan berjanji siap mengerahkan pasukan militer untuk meredam unjuk rasa yang terjadi di sejumlah kota. Ia menegaskan siap menerjunkan ribuan tentara ke jalan-jalan di ibu kota-ibu kota negara bagian yang tak mampu mengatasi unjuk rasa.    

Dalam sepekan terakhir, aksi unjuk rasa terkait kematian Flyod yang tak bersenjata di Minneapolis meluas dan bahkan diwarnai kericuhan serta penjarahan dan pembakaran sejumlah kendaraan kepolisian. Kerusuhan yang diwarnai kekerasan tersebut menjadi unjuk rasa terburuk di New York, Los Angeles, dan puluhan kota lainnya dalam beberapa dekade terakhir.

Saat awal kerusuhan rasialis mulai merebak, Trump memiliki bersikap hati-hati. Akhirnya Trump yang siap kembali bertarung dalam pemilihan presiden AS pada November 2020 pun bereaksi dan membela diri.

Bersamaan dengan aparat polisi AS mulai menghalau para demonstran dengan menembakkan gas air mata, Trump menyampaikan pidato terkait unjuk rasa rasialis di Gedung Putih, Washington.        

"Saya siap mengerahkan ribuan dan ribuan tentara yang bersenjata lengkap, personel militer dan petugas penegak hukum untuk menghentikan kerusuhan, penjarahan, perusakan, penyerangan, dan perusakan properti secara tidak sah," ucap Trump.

Trump juga mengecam kerusuhan malam sebelumnya terjadi di Washington sebagai ‘aib total’. Ia meminta para gubernur negara bagian untuk bertindak cepat dan kuat untuk ‘menguasai  jalan-jalan."

"Jika sebuah kota atau negara menolak untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dan properti penduduk mereka, maka saya akan mengerahkan militer Amerika Serikat dan dengan cepat menyelesaikan masalah bagi mereka," tegas Trump yang juga menyebut aksi unjuk rasa yang diwarnai kekerasan dan penjarahan sebagai ‘aksi teror domestik’.

Setelah Trump menyampaikan pidatonya, para pengunjuk rasa yang berada di luar Gedung Putih dibubarkan. Dengan kondisi yang telah kondisi, Presiden dari Partai Republik itu bisa menyusuri jalan sekitar Gedung Putih berjalan menuju Gereja St Johns yang berusia dua abad.

Suasana sekitar telah berubah. Tembok-tembok di luar sekitar Gedung Putih telah dipenuhi coretan-coretan dan beberapa sisa pembakaran saat aksi unjuk rasa pada Minggu (31/5). "Kita memiliki negara yang hebat," ucap Trump saat berdiri di depan gereja.

Polisi menutup jalan tol untuk menghalau demonstran di Minneapolis, AS (AFP/ Chandan Khanna) 

Penolakan seruan Trump

Akan tetapi ternyata seruan Trump yang siap mengerahkan pasukan militer tidak mendapat respon positif.  "Apa yang dilakukan presiden hari ini adalah dia memanggil militer Amerika melawan warga Amerika," kata Gubernur New York Andrew Cuomo di Twitter-nya.

"Dia menggunakan militer untuk mendorong protes damai sehingga dia bisa memiliki foto di sebuah gereja. Itu semua hanya sebuah reality TV show Presiden (Trump)," cuit Cuomo yang mengkritik pernyataan dan sikap Trump.

Sejak aksi untuk rasa yang memprotes tindakan brutal dan rasial dari polisi bernama Chauvin yang menyebabkan kematian Flyod, ribuan orang turun ke jalan-jalan di sejumlah kota di AS melakukan demonstrasi.

Merebaknya unjuk rasa tersbut tercatat sebagai demonstrasi terbesar di AS sejak 1968. Saat itu ikon pejuang hak sipil Martin Luther King Jr yang berkulit ditembak pada pipi kanannya yang menembus hingga rahangnya.  Aksi pembunuhan terhadap aktivis hak sipil yang terkenal dengan pidatonya dengan judul  ‘I have a dream’ telah memicu kerusuhan di AS.     

Aksi unjuk rasa yang diwarnai pembakaran di sekitar luar Gedung Putih, Washington, AS, Minggu (31/5). (AFP /Roberto Schmidt)

Satu demonstran tewas

Aksi unjuk rasa di sejumlah kota diwarnai bentrokan antara demonstran dan polisi. Bahkan seorang demontran tewas ditembak mati di Louisville, Kentucky.

Tayangan video kematian warga kulit hitam Floyd menyebar ke jutaan ponsel. Para pengamat kekarasan yang dilakukan polisi bernama Derek Chauvin telah memicu kemarahan. Chauvin menekan Flyod yang beusia 46 tahun dengan lututnya selama hampir 9 menit.

Kalimat yang diucapkan Floyd ‘I Can’t Breath’ menjadi slogan saat  para demonstran berunjuk rasa memprotes tindakan brutal polisi kepada pria yang tak bersenjata. Kematian Flyod juga mengungkap luka bagaimana para polisi AS kerap memperlakukan warga kulit hitam berbeda dengan kulit putih.  (AFP/OL-09)

    

BERITA TERKAIT