02 June 2020, 11:16 WIB

Polisi Ringkus Pembuat Tembakau Sintetis di Cimahi


Depi Gunawan | Nusantara

KASUS peredaran tembakau sintetis mengandung narkoba marak terjadi di wilayah hukum Polres Cimahi. Tingginya harga jual untuk satu gram tembakau sintetis membuat para produsen dan bandar tertarik menjual barang ini. Seperti yang dikerjakan tersangka PS ,20, dan DS ,19. Dalam sekali produksi, mereka berdua bisa meraup keuntungan sebesar Rp.175 juta/minggu. Atau dalam setiap 1 gram bibit (synthetic cannabinoid) menghasilkan 50 gram tembakau sintetis dengan harga jual Rp350-400 ribu/5 gram.

Pengungkapan kasus ini berawal ketika salah satu tersangka, PS ditangkap pada Minggu (31/5) dini hari di Jalan Pasir Kaliki, Kelurahan Pasir Kaliki, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi saat mengatarkan lima plastik bening berisi tembakau sintetis kepada anggota polisi yang menyamar sebagai pembeli.

"Berdasarkan barang bukti yang kami dapat, tersangka langsung ditangkap dan diamankan ke kantor polisi," kata Kapolres Cimahi, AKBP M. Yoris Maulana Yusuf Marzuki, Selasa (2/6).

Hasil pengembangan terhadap tersangka yang sudah ditangkap, Satuan Reserse Narkoba Polres Cimahi kemudian menggerebek sebuah rumah produksi tembakau sintetis di Gang Warna Cinta, Kelurahan Cibaduyut Kecamatan Bojongloa Kidul Kota Bandung pada Senin (1/6) malam.

"Kami ringkus tersangka DS di rumahnya beserta sejumlah alat pembuatan tembakau sintetis dan sejumlah barang siap edar," bebernya.

Menurut Yoris, tersangka DS mengaku membuat sendiri tembakau sintetis di rumah kontrakkannya. Barang yang mereka jual diberi label Banana Candy, Nataradja Dance Shiva dan Bali Indonesia yang dipasarkan melalui akun Instagram ZETAS.STUFF.

"Tersangka DS berperan sebagai pemodal sekaligus membantu PS dalam mengedarkan tembakau sintetis melalui akun Instagram," ungkapnya.

baca juga: Operasi Pasar Bulog Larantuka Diubah Menyesuaikan Pandemi

Selama ini, mereka biasa mengedarkan tembakau sintetis di wilayah Bandung Raya bahkan hingga di pulau Jawa. Akibat perbuatannya itu, para tersangka dijerat pasal berlapis UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp8 miliar. 

"Setelah pembeli memesan, barang biasanya langsung diantarkan dengan pola COD (Cash on Delivery) oleh tersangka," tambahnya. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT