02 June 2020, 10:15 WIB

Otopsi Independen: Kematian George Floyd akibat Sesak Napas


Nur Aivanni | Internasional

DUA dokter yang melakukan otopsi independen atas kematian George Floyd mengatakan, pada Senin (1/6), bahwa ia meninggal karena sesak napas dan kematiannya merupakan pembunuhan.

Dikutip dari Channel News Asia, Selasa (2/6), dokter juga mengatakan Floyd tidak memiliki kondisi medis yang mendasari yang berakibat pada kematiannya itu. Ia kemungkinan meninggal sebelum dibawa oleh ambulans.

"Buktinya konsisten dengan asfiksia mekanik sebagai penyebab kematian dan pembunuhan sebagai cara kematian," kata Allecia Wilson dari University of Michigan, salah satu dari dua dokter forensik yang melakukan otopsi independen.

Sebuah video menunjukkan bahwa Floyd memohon untuk dilepaskan dan mengatakan berulang kali bahwa dia tidak bisa bernapas ketika seorang polisi Derek Chauvin menekuk lututnya dengan kuat di leher Floyd selama hampir sembilan menit. Sementara, dua petugas lainnya menekan dengan lutut mereka ke punggung Floyd.

Baca juga: Polisi pun Berlutut Redam Kemarahan

Chauvin, yang berkulit putih dan telah dipecat dari departemen kepolisian Minneapolis, didakwa dengan tuduhan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan tak berencana pekan lalu.

Michael Baden, yang juga mengambil bagian dalam otopsi independen atas permintaan keluarga Floyd, mengatakan bahwa tindakan dua petugas lainnya juga menyebabkan Floyd tidak bernapas lagi.

"Kita bisa melihat setelah kurang dari empat menit bahwa Floyd tidak bergerak, tidak bernyawa," kata Baden, seraya menambahkan tidak ditemukan kondisi kesehatan yang mendasari pada Floyd yang menyebabkan kematiannya tersebut.

Baden menepis argumen bahwa jika Floyd bisa berbicara, maka dia bisa bernapas. 

"Banyak polisi menganggap bahwa jika Anda bisa berbicara, itu berarti Anda bernapas. Itu tidak benar," kata Baden. "Saya berbicara sekarang di depan Anda dan tidak mengambil napas," tambahnya. (CNA/A-2)

 

BERITA TERKAIT