02 June 2020, 09:53 WIB

IHSG Awali Perdagangan Pekan Ini dengan Kembali Menghijau


Despian Nurhidayat | Ekonomi

PERGERAKAN Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pekan ini, Selasa (2/6) cukup menjanjikan. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka menguat 0,63% atau 30,12 poin ke posisi 4.783,73.

Penguatan ini pun melanjutkan hasil positif pada penutupan pekan lalu, di mana IHSG sebelumnya ditutup menguat 0,79% atau 37,43 poin ke level 4.753,61. 

Pada penutupan tersebut, terdapat 175 saham menguat, 232 saham melemah dan 154 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp17,29 triliun dari 12,07 miliar lembar saham yang diperdagangkan.

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, berdasarkan indikator, MACD berhasil menuju ke area positif. Sementara itu, Stochastic dan RSI bergerak ke atas menuju kepada area overbought.

"Di sisi lain, terlihat beberapa pola upward bar yang mengindikasikan adanya potensi bullish continuation pada pergerakan IHSG sehingga berpeluang menuju ke resistance terdekat," ujar Nafan dalam risetnya, Selasa (2/6).

Berdasarkan beberapa rasio fibonacci, support pertama maupun kedua memiliki range pada level 4.624,97 hingga 4.569,16. Sementara itu, resistance pertama maupun kedua memiliki range pada 4.828,57 hingga 4.975,54.

Baca juga: Wall Street Ditutup Positif Didukung Tanda Pemulihan Ekonomi

Senada dengan apa yang disampaikan Nafan, Direktur PT Anugrah Mega Investama, Hans Kwee, menilai penguatan IHSG didukung berbagai sentimen positif. Baik dari dalam maupun luar negeri.

"Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat awal pekan dan rawan aksi profit taking di akhir pekan. IHSG berpotensi menguat dengan support level 4700 sampai 4541 dan resistance di level 4800 sampai 4975," ungkap Hans melalui keterangan resmi, Minggu (31/5).

Rencana penerapan new normal atau pelongaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), lanjut dia, akan menjadi sentimen positif bagi pasar saham Indonesia. Beberapa sentimen yang cukup memengaruhi pergerakan IHSG, yakni ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok. Apalagi setelah Kongres Rakyat Nasional Tiongkok menyetujui RUU Keamanan Nasional Hong Kong.

Selain itu, AS juga berpeluang besar menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan dan pejabat Tiongkok atas situasi yang terjadi di Hong Kong. 

"Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, mengisyaratkan tidak ada perubahan kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok. Meskipun tensi kedua negara meningkat dan sentimen positif di awal pekan," pungkas Hans. (A-2)

BERITA TERKAIT