02 June 2020, 09:29 WIB

Wall Street Ditutup Positif Didukung Tanda Pemulihan Ekonomi


Antara | Ekonomi

WALL Street membukukan keuntungan moderat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena tanda-tanda pemulihan ekonomi AS membantu mengimbangi kegelisahan sosial yang semakin keras di tengah pandemi yang sedang berlangsung dan meningkatnya ketegangan AS-Tiongkok.

Ketiga indeks saham utama memulai bulan ini dengan kenaikan kurang dari satu persen di tengah reli Mei yang kuat, karena para investor mempertimbangkan kemungkinan menormalkan kegiatan ekonomi.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 91,91 poin atau 0,36%, menjadi berakhir di 25.475,02 poin. Indeks S&P 500 meningkat 11,42 poin atau 0,38%, menjadi ditutup pada 3.055,73 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir naik 62,18 poin atau 0,66%, menjadi 9.552,05 poin.

Langkah pada Senin (1/6), mengikuti bulan solid di Wall Street, yang melihat Dow naik 4,3%, S&P 500 naik 4,5%, dan Nasdaq yang padat teknologi menandai pengembalian 6,8% untuk Mei.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, semuanya kecuali layanan kesehatan mengakhiri sesi di wilayah positif.

Pemimpin pasar Facebook Inc, Apple Inc dan Amazon.com memberikan dorongan terbesar ke S&P 500 dan Nasdaq, sementara Boeing Co memberi Dow dorongan terbesar.

Ke 50 negara bagian AS telah mengurangi pembatasan terkait covid-19 ke berbagai tingkat, meskipun ada kekhawatiran akan percepatan kembali dalam kasus virus.

Keuntungan pasar agak tertutup ketika protes dengan kekerasan bergema di seluruh negeri setelah kematian Afrika-Amerika George Floyd, memicu kekhawatiran tentang berkurangnya pemulihan ekonomi.

"Tentu saja laju pemulihan pasar saham tidak dapat berlanjut pada kecepatan yang telah terjadi," kata Paul Nolte, manajer portofolio di Kingsview Asset Management di Chicago. "Saya terpana dengan kinerja pasar yang bagus."

Baca juga: Harga Minyak stabil di Tengah Kesepakatan Produksi OPEC+

Gedung Putih menyerukan "hukum dan ketertiban" setelah enam malam demonstrasi meluas dan kekerasan yang dipicu oleh kematian George Floyd di tangan polisi, bahkan ketika negara itu terhuyung-huyung dari dampak ekonomi akibat kuncian terkait pandemi.

"Kebanyakan investor mengatakan (protes) tidak akan menghancurkan ekonomi," tambah Nolte.  "Ini adalah penghalang jalan tetapi tidak sebesar pandemi."

Keresahan telah mendorong peritel seperti Target Corp dan Walmart Inc untuk menutup sebagian toko mereka, sementara Amazon.com telah mengurangi pengiriman.

Lebih lanjut membebani sentimen, Tiongkok memerintahkan perusahaan-perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian kedelai dan daging babi AS, sebagai balasan atas pengumuman Presiden Donald Trump bahwa

ia akan mengakhiri perlakuan khusus untuk Hong Kong setelah langkah Tiongkok memperketat langkah-langkah keamanan di wilayah tersebut.

Tetapi data ekonomi mendorong sentimen investor, dengan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur dari Institute Supply Management (ISM) menunjukkan kontraksi aktivitas pabrik melambat.

Gambaran yang lebih lengkap tentang kerusakan ekonomi yang ditimbulkan oleh penguncian pandemi terkait diperkirakan terjadi pada Jumat, ketika laporan pekerjaan Departemen Tenaga Kerja diperkirakan menunjukkan pengangguran melonjak menjadi 19,7%. (A-2)

BERITA TERKAIT