01 June 2020, 20:00 WIB

Membiasakan Diri Dengan Budaya Baru 


Muhammad Sadji, Pensiunan Pegawai BUMN | Opini

KETIKA berkesempatan mengunjungi Thailand beberapa tahun lalu, penulis sempat terkesima melihat serombongan anak-anak muda berpakaian biksu. Mereka terlihat gagah dan begitu percaya diri.

Dari informasi yang didapat, ternyata setiap anak lelaki yang baru lulus SLTA wajib menjadi biksu selama tiga bulan. Tujuannya agar mereka kelak menjadi warga negara yang baik, jujur, taat ajaran agama, dan peraturan perundang-undangan. Itu merupakan kebijakan baru pemerintah Thailand dalam membangun sumber daya manusia (SDM). Mereka diharapkan lebih beretika dan bertingkah laku sesuai ajaran agama.

Penulis teringat ketika melaksanakan ibadah haji tidak boleh sedikitpun melanggar ketentuan agama. Bahkan membunuh serangga saja tidak diperkenankan. Ternyata, semua jamaah calon haji taat dan tidak ada yang berani melanggar. Harapannya ketika sudah kembali ke Tanah Air nilai-nilai positif selama di tanah suci bisa tetap terbawa. Tentu dalam agama-agama lain juga ada hal serupa untuk membangun umatnya agar berwatak luhur.

Dalam setiap momentum keagamaan atau peristiwa tertentu diharapkan mampu menciptakan suatu pengalaman, pelajaran dan budaya baru yang lebih baik bagi suatu kaum, masyarakat dan suatu bangsa.

Budaya baru 
Sejak Januari 2020 seluruh dunia dikejutkan merebaknya wabah virus korona karena penularannya sangat luar biasa cepat. Virus ini bermula di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok yang diduga ditularkan hewan liar yang diperjualbelikan di pasar Huanan. 

Sejak itulah virus ini mulai menyebar ke banyak negara. Virus korona merupakan keluarga virus yang menyebabkan berbagai penyakit dalam berbagai tingkat keparahan. Dimulai dari gejala pilek hingga sindrom pernapasan akut mematikan atau dikenal dengan SARS (severe acute respiratory syndrome). 

Virus ini menyerang siapa saja tanpa memandang pangkat, kedudukan, kaya, miskin, usia, atau agama dan ras. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan protokol kesehatan untuk menghambat serta menghindari penularan dan penyebaran covid-19 ini. 

Protokol kesehatan tersebut wajib diikuti dan ditaati. Caranya dengan selalu memakai masker, menjaga jarak di tempat-tempat umum, menghindari kerumunan orang, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, dan diam di rumah kecuali untuk keperluan dan hal-hal yang penting dan mendesak. 

Indonesia menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang telah menciptakan budaya baru dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hampir seluruh elemen bangsa mulai membangkitkan kembali budaya gotong-royong yang nyaris hilang dalam kehidupan kita. Penerapan PSBB memang telah menimbulkan persoalan ekonomi dengan banyaknya anggota masyarakat kehilangan mata pencaharian. Itu sebabnya pemerintah mengucurkan bantuan sosial yang ditujukan kepada masyarakat terdampak pandemi.

Di samping itu, berbagai elemen masyarakat juga menggalang dana untuk membantu para tenaga kesehatan yang sangat berjasa dalam melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Mereka juga bergotongroyong untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak pandemik. Bentuk gotong royong itu juga meliputi pengerahan tenaga, pikiran, harta, hati nurani, perilaku dan saling bersinergi dalam tugas dan tanggung jawab bersama.

Budaya gotong royong dalam berbagai aspek ini telah menghasilkan budaya ikutan. Menegur dan mengingatkan secara tegas dan konsisten untuk mentaati peraturan yang berlaku dan bila perlu menghukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Budaya antre dan menjaga jarak dengan rapi serta menghindari kerumunan, merupakan pemandangan baru yang patut dilestarikan karena bisa merupakan embrio penerapan disiplin nasional baru. Tinggal di rumah dan bekerja serta belajar dari rumah, telah menciptakan budaya betah di rumah. Tidak banyak orang berkeliaran, membuat budaya hemat energi terutama BBM dan pengurangan polusi udara serta tidak ada kemacetan lalu lintas.

Budaya efisiensi karena makin banyak masyarakat menggunakan media sosial untuk keperluan apa pun. Budaya bersih kapan pun dan di mana pun, apabila diterapkan dalam menjaga dan memelihara lingkungan yang bersih dan rapi, dapat menunjang tata kehidupan yang sehat. Pengabdian para tenaga medis dan kesehatan yang cekatan, ketaatan pada protokol kesehatan dan tahan banting adalah cerminan budaya kerja keras yang sangat membanggakan. Walhasil, apabila budaya baru yang terbentuk selama pandemi covid-19 ini bisa tetap dipertahankan dan dikembangkan dengan penuh kesadaran, diharapkan dapat menarik dan memajukan industri pariwisata di Tanah Air.

Penulis merupakan peserta Workshop Online Teknik Menulis Opini Sekolah Jurnalisme Media Indonesia.


 

BERITA TERKAIT