01 June 2020, 08:30 WIB

​​​​​​Kota-kota AS Tetapkan Jam Malam di Tengah Kerusuhan Sipil


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

KERUSUHAN sipil berkobar dan jam malam diberlakukan di beberapa kota besar Amerika Serikat (AS), Sabtu (30/5), ketika para demonstran turun ke jalan untuk melampiaskan kemarahan atas kematian seorang pria kulit hitam yang di tangan seorang polisi kulit putih Minneapolis.

Dari Los Angeles hingga Miami dan Chicago, protes yang ditandai dengan teriakan "Saya tidak bisa bernapas"--kata-kata sekarat George Floyd saat ditindih oleh polisi menggunakan lututunya--dimulai dengan damai sebelum berbelok ketika para demonstran memblokir lalu lintas, melakukan pembakaran, dan bentrok dengan polisi antihuru-hara. Gas air mata dan peluru plastik ditembakkan dalam upaya untuk memulihkan ketertiban.

Pemandangan para pengunjuk rasa membanjiri jalan-jalan memicu nuansa krisis di Amerika Serikat setelah minggu-minggu terkurung akibat pandemi virus korona baru (covid-19), yang telah menyebabkan jutaan kehilangan pekerjaan dan secara tidak proporsional memengaruhi komunitas minoritas.

Di ibu kota negara, ratusan demonstran berkumpul di dekat markas Departemen Kehakiman berteriak, "Nyawa orang kulit hitam itu penting." 

Banyak pemrotes kemudian bergerak ke Gedung Putih, tempat mereka berhadapan dengan polisi berperisai, beberapa menunggang kuda.

Presiden Donald Trump mengancam, Sabtu (30/5), pengunjuk rasa yang berkumpul di seberang Gedung Putih akan berhadapan dengan tindakan keras jika mereka melewati ‘garis merah’. 

Jika pengunjuk, melewati pagar, kata Trump, "Mereka akan disambut dengan anjing-anjing yang paling ganas, dan senjata yang paling tidak menyenangkan, yang pernah saya lihat."

Baca juga: Kerusuhan Minneapolis: WNI Aman

Garda Nasional Minnesota diaktifkan untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua setelah empat malam pembakaran, penjarahan, dan perusakan di beberapa bagian Minneapolis, kota terbesar di negara bagian, dan ibu kotanya yang berdekatan, St. Paul.

Gubernur Minnesota Tim Walz mengatakan pengerahan itu diperlukan karena para agitator luar menunggunakan protes atas kematian Floyd untuk menabur kekacauan. Ia memperkirakan demonstrasi Sabtu malam menjadi yang paling intens sejauh ini.

"Kami diserang," kata Walz pada sebuah pengarahan pada Sabtu. "Aturan harus dipulihkan."

Secara terpisah, Jaksa Agung AS William Barr juga menuding instigator ekstremis--meskipun ia dan Walz tidak menawarkan bukti untuk mendukung pernyataan mereka--sebagai pengobar kekerasan.

Aktivis hak-hak sipil mengatakan video penangkapan Floyd memicu curahan kemarahan yang telah lama membara di Minneapolis dan kota-kota di seluruh negeri lebih dari bias rasial persisten dalam sistem peradilan pidana AS.

Tetapi protes yang menyebar dengan cepat--baik secara damai maupun melanggar aturan--juga bertepatan dengan perasaan ketidakpuasan nasional yang mendalam terhadap klaustrofobia sosial dan keterpurukan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi covid-19. (France 24/A-2)

BERITA TERKAIT