31 May 2020, 21:16 WIB

Mau Terapi Stem Cell? Perhatikan Hal Berikut


Eni Kartinah | Humaniora

TERAPI stem cell (sel punca) menjadi salah satu teknik modern yang menjadi harapan untuk mengatasi berbagai penyakit berat. Seperti, stroke, diabetes, osteoartritis, autisme, dan penyakit-penyakit autoimun. Tak hanya itu, stem cell juga menjadi andalan untuk memperbaiki penampilan. Seperti, untuk peremajaan kulit dan mengatasi kebotakan.

Namun, popularitas stem cell kadang dimanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk mencari keuntungan. Misalnya, mereka menjual kapsul, losion, atau krim perawatan dengan klaim mengandung stem cell. Kita perlu hati-hati menyikapinya. Mengapa?

Dokter spesialis bedah plastik yang juga pakar biomedik dr Karina SpBP-RE menjelaskan, stem cell merupakan sel hidup. Karenanya, tak mungkin dikemas dalam bentuk kapsul, losion, atau krim. Ia menganalogikan dengan proses transfusi darah.

“Ketika kita butuh tranfusi darah, kenapa harus repot-repot mencari stok-nya ke PMI (Palang Merah Indonesia)? Karena kita membutuhkan sel-sel darah yang hidup. Sel-sel itu butuh perlakuan khusus agar tetap hidup dalam penyimpanannya, seperti yang dilakukan PMI. Pun demikian dengan stem cell. Sampai saat ini, belum ada teknologi yang memungkinkan stem cell tetap hidup dalam kemasan kapsul atau krim,” papar dr Karina pada webinar bertajuk Tampil cantik dan Sehat dengan Stem Cell, baru-baru ini.

Lantas, bagaimana memperoleh stem cell yang hidup? Dokter Karina menerangkan, stem cell bisa diperoleh dari orang lain, misalnya dari tali pusat bayi. Namun yang terbaik adalah diperoleh dari tubuh sendiri. Bagian tubuh yang paling banyak mengandung stem cell ialah lemak.

“Kita bisa memperoleh stem cell dari jaringan lemak kita. Jadi, melalui prosedur liposuction lemak disedot. Lalu lemak diproses di laboratorium untuk diambil bagian khususnya yang disebut stromal vascular fraction (SVF). SVF ini mengandung beberapa jenis sel hidup, termasuk stem cell,” tutur dr Karina yang juga CEO Hayandra Lab, salah satu laboratorium pemegang izin pemprosesan stem cell.

Pada sejumlah kasus terapi, SVF dapat diberikan langsung pada pasien. Namun khusus untuk keperluan terapi stem cell, SVF perlu diproses lagi untuk diambil bagian stem cell-nya, lalu dibiakkan (diperbanyak). Setelah didapat jumlah stem cell sesuai dosis yang diperlukan, stem cell itu ‘dipanen’, lalu dipakai untuk terapi pada pasien.

Saat ini, lanjut dr Karina, semakin banyak hasil-hasil penelitian yang membuktikan keamanan dan efikasi stem cell dalam terapi berbagai penyakit, juga untuk menunjang penampilan. (RO/A-3)

BERITA TERKAIT