24 May 2020, 02:40 WIB

Penambahan Kasus Positif Covid di Sumsel Melandai


Dwi Apriani | Nusantara

GUGUS Tugas penanganan covid-19 di Sumatra Selatan mengklaim beberapa hari belakangan jumlah penambahan kasus positif di wilayahnya bergerak lambat. Seperti terlihat pada Sabtu (30/5), kasus positif di Sumsel bertambah 10 orang sehingga total saat ini menjadi 963 kasus.

Dibarengi dengan penambahan jumlah pasien sembuh sebanyak 32 orang sehingga total mencapai 169 hingga sekarang. Sementara pasien meninggal bertambah 4 orang mencapai total 31 orang. "Beberapa hari ini penambahan jumlah kasus positif di Sumsel menurun angkanya, tercatat sampai kini sudah ada total 963 kasus di Sumsel," kata Yusri, jubir penanganan covid-19 Sumsel.

Hal itu bisa dipengaruhi karena sudah tercipta kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat. Terutama dengan adanya anjuran protokol kesehatan dari pemerintah dan beberapa daerah telah menerapkan PSBB (pembatasan sosial berskala besar).

"Kita melihat memang saat ini pola hidup masyarakat untuk memakai masker, jaga jarak sudah maksimal dilakukan. Masyarakat juga terus diimbau dan diingatkan untuk selalu rutin mencuci tangan," kata dia.

Yusri menjelaskan, penyebaran covid-19 di Sumsel dipengaruhi oleh empat klaster. Pertama klaster masyarakat umum yang diawali kasus impor dan menyebar dalam lingkungan keluarga, sahabat dan rekan kerja. "Berdasarkan catatan kita, klaster awal inilah yang mendominasi pasien di Sumsel," kata dia.

Klaster kedua terbanyak ada pada klaster tenaga medis, dimana para tenaga medis kebanyakan tertular saat melakukan perawatan pasien positif. Ketiga, klaster Jamaah Tabligh asal Bangladesh dan Srilangka yang memiliki riwayat ke Bogor, Jawa Barat. Klaster terakhir adalah Siswa Sekolah Pembentukan Perwira Lembaga Pendidikan Polri (Setukpa Lemdikpol) yang baru pulang dari Sukabumi, Jawa Barat.

"Sejauh ini terbesar kluster masyarakat umum, kalau dipersentasekan sekitar 70 persen. Lalu klaster kedua 20 persen didominasi tenaga medis, dan 10 persen kasus impor dari Jawa Barat baik mereka warga negara asing yang mengikuti Tabligh maupun siswa Setukpa," pungkasnya. (R-1)

BERITA TERKAIT