31 May 2020, 05:20 WIB

Dubes RI Paparkan Kunci Sukses Jerman Atasi Covid-19


Nur/I-1 | Politik dan Hukum

DUTA Besar (Dubes) RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno menyampaikan bahwa ada sejumlah hal yang bisa dipelajari dari cara pemerintah Jerman dalam menangani pandemi virus korona baru (covid-19) di negara tersebut.

Arif mengatakan Jerman mengambil kebijakan dengan cepat saat kasus infeksi covid-19 pertama kali terdeteksi pada 27 Januari. Saat itu juga tim krisis penanganan covid-19 dibentuk.

Penanganan covid-19 pun tidak diremehkan pimpinan tertinggi di Jerman, seperti yang terjadi di negara lain. Kebijakan lockdown pun diambil dengan cepat pada 13 Maret ketika kasus infeksi meningkat.

“Tapi tidak semuanya ditutup, ada beberapa aspek kehidupan bisnis dan sosial yang masih buka, yaitu toko makanan, supermarket, restoran hanya boleh takeaway,” katanya dalam keterangan resmi melalui akun Youtube BNPB Indonesia, kemarin.

Menurutnya, kebijakan yang dikeluarkan Jerman jelas sehingga masyarakat bisa menerapkannya langsung secara disiplin.

Di samping itu, adanya kesamaan kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian di Jerman menjadi kunci dalam penanganan covid-19. “Kebijakan yang diambil sangat koordinatif antara pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian,” kata Arif.

Terkait dengan pertimbangan antara kepentingan kesehatan dan ekonomi, kebijakan yang diambil Jerman di bidang ekonomi cukup masif, seperti menyiapkan dana stabilisasi sebesar 600 miliar euro dan bantuan untuk UMKM sebesar 165 miliar euro.

Faktor penentu lainnya, lanjut dia, ialah kesiapan infrastruktur kesehatan di Jerman. Jerman memiliki 2.000 rumah sakit, 28 ribu tempat tidur ICU, dan 35 ribu ventilator.

Kondisi terakhir di Jerman tercatat 180 ribu dengan 164 ribu orang telah sembuh. Angka kesembuhan di Jerman mencapai 82%. Sementara itu, jumlah kematian 8.450 orang atau 4% dari total warga yang terinfeksi.

“Angka 4% ini angka yang sangat rendah di Eropa jika dibandingkan dengan Belgia 16%, Prancis 14%, Italia 13%, dan Spanyol 10%,” jelasnya.

Total tes yang dilakukan di Jerman pun mencapai 4 juta. Itu merupakan peringkat ketiga terbesar di dunia setelah AS dan Rusia. (Nur/I-1)

BERITA TERKAIT