30 May 2020, 05:50 WIB

Terapi Plasma Konvalesen pada Pasien Covid-19


Theresia Monica Rahardjo Penggagas Terapi Plasma Konvalesen (TPK) di Indonesia | Opini

VIRUS korona dibagi menjadi 4 golongan, yaitu virus korona alfa, beta, gama,dan delta. Covid-19 merupakan virus korona beta bersama sama dengan virus SARS dan MERS. Nama korona berarti mahkota. Itu karena semua virus korona tampak seperti mahkota bila dilihat di bawah mikroskop elektron. Covid-19 memiliki struktur yang mirip dengan virus korona yang lain. Virus ini merupakan virus RNA rantai tunggal dan memiliki 4 protein utama yang berperan dalam proses patofi siologinya.

Protein itu merupakan protein S (spike) yang merupakan alat covid-19 untuk berikatan dengan reseptor ACE2 di permukaan sel-sel pernapasan sehingga bisa masuk ke dalam sel tersebut. Lalu, protein E (envelope) yang merupakan pembungkus luar covid-19, protein M (membrane) yang merupakan protein yang terletak di pembungkus dalam covid-19, dan protein N (nucleocapsid) yang merupakan pembungkus RNA covid-19.

Covid-19 memasuki sel pernapasan dengan berikatan melalui protein S. Setelah virus masuk ke sel pernapasan, virus akan menggunakan organ-organ sel inang (host) yang ia masuki untuk memperbanyak diri. Dalam bahasa yang lebih sederhana, sel inang dipakai covid-19 sebagai mesin fotokopi. Setelah jumlah virus menjadi banyak, virusvirus tersebut akan keluar dari sel dan sel inang akan mati. Demikian siklus yang terjadi secara berulangulang sehingga jumlah virus semakin banyak.

Penelitian-penelitian pada genom covid-19 menunjukkan bahwa virus ini memiliki sekuens homologi atau kemiripan genetik sekitar 79%-88% dengan virus SARS dan 50%-55% dengan MERS. Hal ini menyebabkan semua usaha pencegahan dan pengobatan covid-19 saat ini menggunakan data-data yang umumnya berasal dari virus SARS sebelumnya.

Salah satu metode pengobatan yang juga dapat berfungsi sebagai pencegahan ialah melalui jalan vaksinasi. Dalam hal ini, vaksinasi pasif. Itu karena sampai saat ini, vaksinasi aktif masih belum ditemukan atau masih dalam tahap penelitian. Terapi plasma konvalesen (TPK) merupakan salah satu bentuk vaksinasi pasif yang dapat menjadi jalan keluar dalam mengatasi covid-19.

Antibodi

Dasar dari TPK ialah antibodi yang terbentuk pada penderita covid-19. Antibodi tersebut dibentuk sel-sel kekebalan humoral dan berada di dalam plasma penderita covid-19. Bila seseorang terserang covid-19, ada dua jenis antibodi yang timbul di dalam tubuh kita, yaitu antibodi atau imunoglobulin M (IgM) dan imunoglobulin G (IgG).

Data dari artikel-artikel valid mengenai covid-19 menyebutkan bahwa IgM akan timbul sejak hari pertama terkena covid-19 dan mencapai puncaknya pada hari ke 7-14, kemudian akan menurun dan menghilang dalam kurun waktu sekitar sebulan. Sementara itu, IgG akan muncul sekitar seminggu setelah IgM muncul dan akan mencapai puncaknya pada hari ke 21-28. Setelah itu, akan bertahan selama 4 bulan, kemudian akan menurun secara bertahap sampai menghilang dalam 36 bulan.

Hal ini menjelaskan cara kerja dasar dari TPK, yaitu dengan memberikan plasma penderita covid-19 yang sudah sembuh kepada pasien covid-19 yang masih menderita penyakit tersebut. Saat ini pemberian TPK masih difokuskan, terutama sebagai terapi penderita covid-19, dan bila hal ini memberikan hasil yang memuaskan, bukan tidak mungkin akan diterapkan sebagai proteksi bagi golongan-golongan yang rentan terkena covid-19, seperti tenaga medis yang berhubungan langsung dengan pasien covid-19 ataupun kelompok komorbiditas tertentu sesuai yang ditulis oleh Arturo Casadevall, salah satu pelopor TPK di AS.

Selain itu, berbagai penelitian dari Tiongkok, Korea, Iran, dan negaranegara lain di dunia saat ini menunjukkan TPK memberikan hasil yang sangat menjanjikan. Penelitian penelitian di Tiongkok yang merupakan episentrum pertama ledakan covid-19 di Wuhan menunjukkan bahwa pemberian TPK pada 10 orang pasien covid-19 memberikan kesembuhan bagi seluruh pasien (Duan K, et al 2020) dan pemberian TPK pada lima pasien kritis juga memberikan kesembuhan bagi kelima pasien tersebut (Guan S, et al 2020).

Penelitian sebelumnya pada SARS juga menunjukkan bahwa pemberian TPK dapat menurunkan angka kematian dengan sangat bermakna sekitar 40% dari angka kematian total saat itu di Hong Kong. Terapi plasma ini juga sudah digunakan dalam mengatasi penyakit ebola. Bahkan, WHO sendiri yang mengeluarkan prosedur terapi tersebut sehingga validitasnya tidak perlu diragukan lagi.

Kekebalan instan

Manfaat TPK ialah memberikan kekebalan instan. Selain itu, proses pengambilan plasma juga relatif mudah dan mirip dengan proses donor darah dengan memakan waktu sekitar 1 jam dan biaya lebih terjangkau. Kriteria calon donor TPK ialah harus positif pada pemeriksaan swab (PCR) sebelumnya yang membuktikan bahwa betul terkena covid-19, harus 14 hari bebas dari gejala. Setelah itu, harus memberikan hasil PCR negatif sebanyak dua kali.

Syarat selanjutnya ialah sebaiknya diutamakan mendonor wanita yang belum pernah hamil ataupun mendonor wanita atau pria yang belum pernah menerima transfusi darah sebelumnya. Hal ini berhubungan dengan antibodi leukosit 9HLA yang berhubungan erat dengan reaksi alergi paru-paru, yang sering disebut transfusion related acute lung injury (TRALI).

Syarat terakhir ialah bila memungkinkan diperiksa, titer optimal antibodi > 1:320 dan titer antibodi netralisasi > 1:80 (Buku Penatalaksanaan TPK pada Pasien Covid-19, 2020). Adapun resipien atau penerima plasma saat ini ialah penderita covid-19 berat dan kritis. Kriteria penderita covid-19 berat, yaitu mengalami salah satu gejala berikut: Sesak napas, frekuensi napas > 30 kali/menit, saturasi oksigen < 93%, PF rasio < 300, dan infi ltrasi paru > 50% dalam 24-48 jam.

Kriteria penderita covid-19 kritis, yaitu mengalami salah satu gejala berikut: Gagal napas, PF rasio < 200, syok septik dan/atau disfungsi atau gagal organ multipel (Buku Penatalaksanaan TPK pada Pasien Covid-19, 2020).

Efektivitas

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan supaya efektivitas TPK maksimal ialah donor sesuai kriteria dan waktu pemberian yang tepat. Sebaiknya TPK diberikan lebih dini dalam 14 hari pertama pasien dirawat dan diusahakan sebelum pasien mengalami gangguan atau gagal organ multipel.

Pemberian TPK sendiri sudah dilaksanakan di Indonesia. Dalam hal ini, TPK dapat diberikan melalui dua jalur, yaitu jalur autonomi pasien dan penelitian (pelayanan berbasis penelitian). Jalur autonomi ditempuh berdasarkan permintaan pasien dan atau keluarga pasien didukung oleh dokter yang merawatnya. Jalur penelitian saat ini sudah dilaksanakan oleh RS rujukan pemerintah, yaitu RSPAD di Jakarta, RS Dr Soetomo Surabaya, RS Kariadi Semarang, RS Saiful Anwar Malang, RS Moewardi Solo, dan RS Unud Bali.

BERITA TERKAIT