28 May 2020, 17:35 WIB

Selama Pandemi, Emisi Global Turun 17%


Galih Agus Saputra | Weekend

TELAH dikabarkan di berbagai negara jika langit kian bersih selama masa karantina. Kini penelitian para ilmuwan telah menunjukkan jika tingkat emisi karbon memang mengalami penurunan.

Dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change dan dilansir Sciencedaily.com baru-baru ini, penelitian dari University of East Anglia, Inggris menemukan jika tingkat 
kadar emisi karbon global turun 17% atau setara dengan 17 juta ton karbon dioksida.

Penurunan terjadi selama puncak karantina covid-19 secara global pada awal April, dimana angka penurunan itu diperkirakan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata CO2 harian pada 2019. Penurunan serupa pernah terjadi, setidaknya 14 tahun silam. 

Kali ini, sektor transportasi menyumbang hampir setengah dari penurunan emisi yakni sekitar 43%. Hal itu terlihat setidaknya sejak 7 April. Angka yang sama juga terlihat dari sektor industri dan energi.

Sektor penerbangan yang juga terdampak karena adanya karantina hanya menyumbang penurunan emisi sebanyak 3%. Tiap negara yang memberlakukan karantina rata-rata mengalami penurunan emisi sebanyak 26% pada puncaknya.

Ketua Penelitian dari University of East Anglia, Inggris, Corinne Le Quéré menjelaskan bahwa masa karantina telah menyebabkan perubahan drastis dalam penggunaan energi dan emisi CO2. Namun tidak adanya perubahan secara struktural dalam sistem ekonomi, transportasi, dan energi menyebabkan penurunam ekstrim ini bersifat sementara.

 "Ada peluang untuk membuat perubahan nyata, tahan lama, dan lebih tangguh terhadap krisis di masa depan, dengan menerapkan paket ekonomi yang membantu memenuhi target iklim, terutama untuk mobilitas, yang menyumbang setengah dari penurunan emisi selama karantina," tuturnya.

Menurutnya, pengurangan emisi yang lebih konsisten hanya bisa dicapai jika ada dukungan infrastruktur bagi pejalan kaki, pesepeda, dan penggendara armada listrik. Menurutnya, strategi ini jauh lebih murah dan lebih baik dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas udara.

Dalam analisisnya, Corinne dan tim mengaku telah menganalisis kebijakan pemerintah terkait masa karantina, khususnya di 69 negara yang menyumbang 97% emisi CO2 global. Pada puncak masa karantina, menurutnya, berbagai negara yang biasa memyumbang 89% emisi CO2 global turun di bawah rata-rata.  

Penurunan emisi tahun ini juga dianggap sebanding dengan jumlah yang dibutuhkan untuk beberapa tahun, atau sebagaimana yang ingin dicapai melalui Paris Agreement.

Ketua Global Carbon Project, Rob Jackson yang turut menulis dalam makalah itu mengatakan bahwa penurunan emisi memang sangat besar, tetapi juga menggambarkan seperti apa tantangan  yang harus diraih di masa yang akan datang berdasarkan perjanjian iklim Paris.

"Kami membutuhkan perubahan sistemik melalui energi hijau dan mobil listrik, bukan pengurangan sementara dari perilaku yang dipaksakan," tuturnya. (M-1)

BERITA TERKAIT