28 May 2020, 17:10 WIB

Tes Massal Syarat Utama Efektivitas Penanggulangan Covid-19 


Dono Widiatmoko, Ahli Kesehatan Masyarakat dan Dosen Senior University of Derby, UK | Opini

BELUM lama ini beredar kabar bahwa Pemerintah Indonesia siap membuka kembali ekonomi dengan merelaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) setelah libur Lebaran usai, atau pada awal Juni mendatang. 

Hal ini diperkuat dengan penerbitan protokol New Normal oleh pemerintah dan pembukaan pusat perbelanjaan di beberapa kota per 5 Juni 2020, dengan alasan meminimalisasi dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menjadi masif akhir-akhir ini akibat lumpuhnya ekonomi. Hal ini menimbulkan spekulasi di kalangan masyarakat, apakah kurva penambahan kasus positif covid-19 di Indonesia benar sudah melandai? Apakah Indonesia sudah melewati masa puncak sehingga akan segera pulih? 

Keraguan patut ada mengingat bahkan jumlah pengambilan spesimen yang akan dicek untuk deteksi kasus secara masif, masih jauh di bawah target yang ditetapkan. Menurut data yang dilansir Achmad Yurianto, juru bicara Penanganan Covid-19, hingga 25 Mei 2020 pemeriksaan sudah dilaksanakan pada 256.946 spesimen. 

Kemampuan tes yang semula sangat terbatas jumlahnya saat ini dilaporkan di kisaran 6.000-8.000 per hari, masih di bawah target Presiden Joko Widodo yaitu 10 ribu tes per hari. Padahal sudah sejak Maret 2020 yang lalu, Pemerintah menjanjikan untuk menggelar tes massal yang terstruktur dan menyeluruh, agar laju penyebaran kasus dapat ditahan. Sayangnya tes massal ini tak kunjung tiba. Hingga saat ini, tes massal cenderung dilakukan secara sporadis, baik oleh pemerintah daerah (Pemda), maupun oleh perusahaan-perusahaan ataupun organisasi nirlaba. 
 
Sebagai solusi
Untuk mendeteksi virus SARS-Cov-2 penyebab covid-19, ada tiga jenis tes yang saat ini bisa digunakan. Jenis tes pertama adalah tes PCR (polymerase chain reaction), yaitu tes berupa pengambilan sampel cairan pada tenggorokan dan hidung untuk mendeteksi keberadaan material genetik virus SARS-Cov-2. Tes PCR merupakan standar utama (gold standard) dalam mengkonfirmasi apakah seseorang positif tertular virus SARS-Cov-2 atau tidak. 

Jenis tes kedua adalah tes serological atau antibodi. Tes tersebut mengecek antibodi pasien yang dilakukan untuk mencari bukti respons kekebalan tubuh (berupa antibodi IgM dan IgG) terhadap virus SARS-Cov-2. Jenis tes terakhir adalah tes antigen. Tes ini bekerja dengan cara mengenali protein yang ditemukan pada suatu virus. Umumnya, tes ini memeriksa sampel yang diambil dari rongga hidung dengan menggunakan metode swab.
 
Meski PCR merupakan standar utama untuk menentukan seseorang benar telah terinfeksi covid-19 atau tidak, pemberian tes ini secara massal cenderung lebih sulit mengingat ketersediaan laboratorium dan alat PCR, reagen, dan tenaga terlatih yang mampu melakukan tes ini secara akurat dan konsisten. Selain itu, tes PCR memerlukan waktu yang relatif lama dan biaya cukup besar. 

Di sisi lain, tes antibodi atau yang lebih sering dikenal sebagai rapid test adalah jenis tes yang mudah digunakan dan harganya relatif tidak mahal, sehingga tes massal sangat memungkinkan. Sayangnya, belakangan muncul stigma negatif mengenai rapid test akibat banyaknya beredar alat uji dengan tingkat sensitivitas (sensitivity) dan akurasi (specificity) yang kurang baik. 

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menilai keakuratan yang ditunjukkan oleh sensitivity dan specificity alat terhadap virus SARS-Cov-2. Sensitivity adalah indikator seberapa baik alat uji mengidentifikasi pasien yang telah mempunyai antibodi terhadap virus, atau dengan kata lain apakah pasien tersebut telah pernah terinfeksi virus. Di sisi lain, specificity mengidentifikasi orang yang bebas dari pajanan virus SARS-Cov-2. Semakin tinggi nilai sensitivity dan specificity dari sebuah alat tes, maka semakin terpercaya alat tersebut untuk memastikan apakah seseorang sedang, atau pernah terinfeksi virus SARS-Cov-2. Jika kemudian pasien mendapatkan hasil uji positif atau reaktif terhadap virus, langkah selanjutnya yang melakukan tes PCR untuk mendapatkan hasil paling akurat. 

Jika memang tes PCR adalah faktor penentu akhir dari keakuratan hasil uji tes covid-19, mengapa kemudian rapid test masih diperlukan? Ini tentunya kembali lagi ke persoalan awal terkait sumber daya. Dengan sumber daya tes PCR yang terbatas, serta harga yang jauh lebih mahal, maka akan lebih bijak jika tes PCR diberikan pada pasien yang memang telah dinyatakan reaktif terhadap virus melalui rapid test.   

Selain itu, rapid test dengan tingkat akurasi tinggi dapat membantu mengidentifikasi orang-orang yang telah membentuk daya tahan tubuh, sehingga orang-orang tersebut bisa segera kembali ke kegiatan-kegiatan yang membutuhkan interaksi antar manusia dalam jarak dekat. Dalam hal ini, orang tanpa gejala (OTG), terutama yang mempunyai riwayat setelah kontak minimal 10 hari dengan orang konfirmasi covid-19, orang dalam pemantauan (ODP), dan pasien dalam pengawasan (PDP) dapat direkomendasikan untuk melakukan rapid test. 

Orang-orang dengan profesi seperti tenaga kesehatan, petugas logistik, petugas kebersihan, petugas toko penyedia makanan pokok dan kebutuhan dasar, dan sebagainya juga perlu diprioritaskan karena sifat pekerjaannya yang krusial dalam situasi pandemi dan pembatasan sosial seperti saat ini. 

Rapid test juga bisa dilakukan di level populasi dengan melakukan survei masyarakat secara acak, untuk mengetahui sejauh mana virus ini telah menginfeksi masyarakat umum. Misalnya, jika rapid test dilakukan dalam satu hari secara random di wilayah Jakarta Pusat, hasilnya bisa untuk mengukur prevalensi penyebaran virus di populasi, atau jumlah orang yang sudah pernah terinfeksi. Dengan diketahuinya angka prevalensi ini, bisa dilihat daerah mana yang masih ’hijau’, alias masih belum banyak warganya yang terinfeksi virus, dan mana daerah yang ‘merah’, alias sudah banyak yang pernah terinfeksi. 

Kebalikan dengan angka status ‘merah-hijau’ daerah dari hasil tes PCR, semakin ‘merah’ sebuah daerah, semakin dekat pula populasi ini mencapai herd immunity. Herd immunity dapat dicapai jika imunitas telah mencapai 75%-85% dari seluruh populasi.

Perlu lisensi
Maraknya kasus alat uji tidak akurat di level global telah diantisipasi oleh negara produsen dengan mengeluarkan daftar alat uji yang menjadi rekomendasi dari negara terkait. Selain itu, penting pula untuk melihat lisensi dari alat uji. Otorisasi pengawas obat dan makanan Tiongkok HSA, dan NMPA Singapore, bahkan US FDA melalui UEA telah mengeluarkan lisensi bagi beberapa alat uji rapid test. Ini menjadi kontrol penting dalam memastikan perangkat uji yang digunakan memiliki akurasi di atas 95%. Di Indonesia Gugus Tugas Covid-19 BNPB bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan sedang melakukan evaluasi terhadap semua merek alat rapid test yang beredar, termasuk yang diproduksi Indonesia. Semua itu untuk memastikan akurasi dan kredibilitas alat uji tersebut. 

Menghentikan penyebaran virus covid-19 adalah solusi terbaik untuk memulihkan ekonomi masyarakat. Lawan kita saat ini adalah pandemi penyakit, bukan dampak ekonomi yang terjadi akibat pandemi. Maka dari itu, jika pemerintah bisa segera melakukan kombinasi rapid test dan tes PCR secara masif, serta merumuskan berbagai kebijakan yang strategis, berbasis data, dan tepat sasaran, laju persebaran covid-19 bisa ditekan secara maksimal dan ekonomi kita bisa segera bangkit.
 

BERITA TERKAIT