27 May 2020, 21:41 WIB

Maskapai Asing Mulai Diizinkan Memasuki Tiongkok


Antara | Internasional

TIONGKOK mulai mengizinkan maskapai asing memasuki negara tersebut setelah otoritas penerbangan sipil setempat (CAAC) memberikan lampu hijau kepada pesawat carter dari beberapa negara.

Dalam dokumen yang diunggah secara daring, Rabu (27/5), kebijakan CAAC untuk sementara masih berlaku bagi pesawat sewaan. Proses aplikasinya pun dipersingkat dari tujuh hari menjadi tiga hari.

Global Times dalam laporannya menyebutkan delapan negara yang masuk dalam daftar CAAC, yakni Jepang, Korea Selatan, Singapura, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Swiss. Sayangnya, Amerika Serikat tidak masuk dalam daftar negara yang pesawatnya boleh mendarat di Tiongkok.

Kebijakan CAAC itu dimaksudkan untuk meningkatkan jadwal fleksibilitas para penumpang pesawat.

Pada akhir Maret pemerintah Tiongkok mengeluarkan kebijakan "Five-One" untuk menekan kasus impor Covid-19.

Kebijakan "Five-One" tersebut adalah setiap pesawat dari satu kota di Tiongkok hanya bisa terbang ke satu kota di negara lain dan tidak boleh lebih dari satu kali penerbangan per pekan.

Tentu saja kebijakan baru ini bisa menambah "Five-One" karena memberikan banyak kesempatan kepada maskapai yang sebelumnya hanya bisa terbang dari satu negara sekali per pekan, demikian CEO VariFlight Zheng Hongfeng.

Jerman dan Korsel telah memanfaatkan kebijakan jalur cepat tersebut untuk beberapa pesawat carter kelas bisnisnya ke Tiongkok.

Kadin Jerman di Tiongkok juga telah mengoordinasikan pesawat carter dengan maskapai Lufthansa guna membantu para eksekutif Jerman kembali terbang ke Tiongkok.

Para pebisnis Jepang sedang mengajukan permohonan kebijakan tersebut agar sejumlah perusahaan Jepang bisa beroperasi penuh di Tiongkok.

Dengan alasan pemenuhan permintaan pasar, Tiongkok tentu akan menambah jumlah penerbangan dengan catatan kasus impor Covid-19 dapat dikendalikan secara efektif, demikian Wakil Kepala CAAC Li Jian.

Menurut dia, jumlah penerbangan yang sudah disetujui mendarat di Tiongkok pada Juni mencapai angka 407. Padahal saat "Five-One" hanya 134 penerbangan. (OL-12)

BERITA TERKAIT