26 May 2020, 17:28 WIB

Gubernur Sumbar: Kalau Sudah Pulang, Jangan Pergi Lagi


Atikah Ishmah Winahyu | Nusantara

GUBERNUR Sumatra Barat, Irwan Prayitno, mengimbau masyarakat agar tidak pulang kampung atau pergi merantau ke kota lain di tengah pandemi covid-19.

Menurutnya, hal ini penting diperhatikan agar tidak menimbulkan imported case dari daerah lain. “Imbauan kami yang dari rantau juga tidak perlu pulang lagi, yang dari daerah juga tidak perlu ke rantau lagi untuk sementara. Kita sama-sama menghambat penularan covid-19,” ujar Irwan dalam telekonferensi dari Graha BNPB, Selasa (26/5).

“Kalau kita diam di sini, saudara kita diam di sana, tidak ada pertemuan. Tidak ada paparan dan tidak ada penyebaran covid-19. Kita bersabar, semoga covid-19 bisa kita landaikan. Jadi kita bisa masuk pada kehidupan baru,” imbuh Irwan.

Baca juga: Angka Kesembuhan Covid-19 di Sumbar Terus Bertambah

Untuk membatasi warga yang masuk dan keluar wilayah Sumatra Barat, pemerintah telah mendirikan posko yang didukung pasukan Polri dan TNI. Rinciannya, sembilan posko perbatasan darat, satu posko bandara dan satu posko laut sejak 31 Maret 2020. Menurutnya, ada beberapa tipe warga yang melakukan perjalanan menuju ke Sumatra Barat.

“Jadi memang yang pulang itu kita bisa bedakan siapa dia. Kalau yang pulangnya di awal, yakni 31 Maret-22 April, banyak yang pedagang kaki lima atau pedagang yang langsung terdampak ketika tidak dapat jualan. Nah, sedangkan yang mudik jumlahnya tidak banyak karena 22 April mulai PSBB, disambut dengan Permenhub Nomor 25 Tahun 2020,” tuturnya.

Menurutnya, pedagang yang terpaksa pulang kampung akibat PSBB sebenarnya memiliki banyak peluang di kampung halaman. Misalnya beternak, bertani dan berkebun. Sebab, Sumatra Barat merupakan daerah agraris dengan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB mencapai 23,8%.

Baca juga: Ini Tiga Indikator Agar Aktivitas Ekonomi dan Sosial Bisa Dimulai

“Sektor kerjanya hampir 50% didominasi oleh sektor pertanian. Jadi kegiatan bisnis banyak di pertanian. Kita tidak terlalu khawatir stimulus ekonomi kepada UMKM di Sumbar. Itu yang kita lakukan, tapi buat pendatang tidak,” pungkas Irwan.

Pegurus Kerukunan Masyarakat Sumatra Utara, Abidin Siregar, menuturkan penyumbang terbesar kasus covid-19 di daerah merupakan imported case. Jika tidak dikendalikan, persoalan ini dikhawatirkan menjadi community spread.

“Persoalan sekarang justru ada di masyarakat. Kalau masyarakat bisa disiplin dan tertib, tampaknya ada pengaruh terhadap kasus (covid-19) dan pengurangan jumlah kematian,” papar Abidin.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT