23 May 2020, 09:15 WIB

Pakar UGM Sebut Virus Korona Cepat Bermutasi


Ardi Teristi Hardi | Humaniora

PAKAR Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru FKKMK UGM, dr Sumardi, SpPDKP., FINASIM menyampaikan, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 bisa bermutasi dengan cepat. Mutasi terjadi ketika virus mereplikasikan diri di dalam sel dan menyalin kode genetiknya. Virus korona jenis baru ini merupakan virus RNA. Virus RNA yaitu strain yang saat bertemu dengan inang dapat membuat salinan baru yang bisa terus menginfeksi sel lain. 

"Materi genetik Covid-19 adalah RNA dan asam aminonya terus berubah dan mutasi. Berbeda dengan virus DNA yang tidak lebih rentan terhadap perubahan," jelasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/5).

Mutasi virus, lanjut dia, merupakan siklus yang biasa terjadi dalam evolusi virus. Namun, mutasi ini akan mengubah tingkat keparahan penyakit yang disebabkannya. Virus yang telah bermutasi biasanya lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya. Kondisi tersebut berpengaruh pada pengembangan vaksin covid-19. Virus yang terus saja bermutasi dari waktu ke waktu akan mengubah perilakunya dalam menginfeksi.

Hal itu sama dengan yang terjadi seperti dalam pengembangan vaksin HIV. Akibatnya, hingga saat ini, belum ada hasil pengembangan vaksin yang bisa mencegah penyebaran virus HIV karena terus bermutasi. Vaksin yang telah dikembangkan hanya sanggup melindungi dari strain virus tertentu, tetapi tidak bisa digunakan untuk virus jenis baru. Menjadi tantangan dalam pengembangan vaksin untuk virus jenis RNA, termasuk Covid-19.

"Kalau sudah ditemukan, vaksin tersebut harus terus diperbarui karena virusnya juga terus berubah," papar Kepala Divisi Pulmonologi dan Penyakit Kritis RSUP Dr. Sardjito ini.

Merujuk kembali pada sifat-sifat virus RNA, vaksin dapat salah membaca kode asam amino yg menyusun gen virus pada saat  multiplikasi.Padahal, vaksin dibuat sesuai unsur-unsur genetik virus RNA sumbernya. Saat vaksin sudah bisa dipakai untuk vaksinasi masal, virus RNA sudah mengalami mutasi unsur genetiknya. Akibatnya, vaksin yang telah dihasilkan berkurang daya proteksinya. Contohnya, berkurangnya proteksi vaksin swine flu.

Sumardi melanjutkan, pengembangan vaksin Covid-19 saat inj disesuaikan dengan kondisi virus RNA di masing-masing negara karena memiliki karakteristik berbeda di setiap negara. Virus korona baru yang ada di Indonsia memiliki karakteristik berbeda dengan virus yang ada di Tiongkok, maupun negara lainnya.

baca juga: Polres dan Kodim Klaten Bantu Sembako untuk Seniman

Dalam informasi di Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID), virus SARS-CoV-2 telah ada tiga tipe, yang dikelompokkan secara  global yaitu S, G, dan V. Sementara virus corona di Indonesia diketahui tidak masuk golongan ketiga tipe dunia yang telah teridentifikasi dan dimasukan sebagai tipe O, singkatan dari "others" atau lain-lain. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT