22 May 2020, 16:14 WIB

Rentan Mutasi, Vaksin Virus Korona Harus Terus Diperbarui


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

VIRUS korona jenis baru (SARS-CoV-2) penyebab covid-19 telah menginfeksi jutaan manusia di berbagai belahan dunia. Bahkan, tidak sedikit yang meninggal dunia akibat terpapar virus ini.

Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) FKKMK UGM Sumardi mengungkapkan virus korona baru ini terus bermutasi dengan cepat. Mutasi terjadi ketika virus mereplikasikan diri di dalam sel dan menyalin kode genetiknya. Mutasi akan mengubah tingkat keparahan penyakit. Virus yang telah bermutasi biasanya lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya.

Kondisi ini berpengaruh pada pengembangan vaksin covid-19. Sebab, virus terus saja bermutasi dari waktu ke waktu sehingga mengubah perilakunya dalam menginfeksi. Hal itu sama dengan yang terjadi dalam pengembangan vaksin HIV.

Hingga saat ini, belum ada hasil pengembangan vaksin yang bisa mencegah penyebaran virus HIV karena terus bermutasi. Kondisi itu menyebabkan vaksin yang telah dikembangkan hanya sanggup melindungi dari strain virus tertentu dan tidak bisa digunakan untuk virus jenis baru.

“Menjadi tantangan dalam pengembangan vaksin untuk virus jenis RNA, termasuk covid-19. Kalau sudah ditemukan vaksin, ke depan harus diperbarui terus karena virusnya juga terus berubah,” kata Sumardi dalam pernyataan tertulis, Jumat (22/5).

Virus korona jenis baru ini merupakan virus RNA, yaitu strain yang saat bertemu dengan inang dapat membuat salinan baru yang bisa terus menginfeksi sel lain.

“Materi genetik covid-19 adalah RNA dan asam aminonya terus berubah dan mutasi. Berbeda dengan virus DNA yang tidak rentan terhadap perubahan,” imbuhnya.

Baca juga: Cepatnya Mutasi Covid-19 Sulitkan Pembuatan Vaksin

Dia menyampaikan, merujuk pada sifat-sifat virus RNA yang pada saat multiplikasi, dapat terjadi kesalahan membaca kode asam amino yang menyusun gen virus, sedangkan vaksin dibuat sesuai unsur-unsur genetik virus RNA sumber. Sementara pada saat vaksin sudah bisa dipakai untuk vaksinasi massal, virus RNA sudah mengalami mutasi unsur genetiknya.

Kondisi tersebut berpengaruh terhadap vaksin yang telah dihasilkan, daya proteksinya berkurang. Seperti juga halnya yang terjadi pada kasus vaksin Swine flu.

Sumardi menambahkan, dalam pengembangan vaksin covid-19 juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara. Pasalnya, virus korona baru ini memiliki karakteristik berbeda di setiap negara. Virus korona baru yang ada di Indonesia memiliki karakteristik berbeda dengan di Tiongkok maupun negara lainnya.

Berdasarkan informasi dari Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID), telah ada tiga tipe virus SARS-CoV-2 yang dikelompokkan secara global yaitu S, G, dan V. Sementara virus korona di Indonesia diketahui tidak masuk golongan ketiga tipe dunia yang telah teridentifikasi dan dimasukan sebagai tipe O, singkatan dari others atau lain-lain.(OL-5)

BERITA TERKAIT