22 May 2020, 14:20 WIB

Hipmi: Pasar Sambut Positif Kebijakan Pemerintah


Despian Nurhidayat | Ekonomi

KETUA Bidang Keuangan dan Perbankan BPP Hipmi Ajib Hamdani menilai sejak disetujuinya Perppu Nomor 1 tahun 2020 tanggal 12 Mei 2020 oleh DPR RI, selanjutnya Pemerintah mengeluarkan PP Nomor 23 tahun 2020 tentang Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), pasar telah menunjukkan sentimen yang relatif positif.

Hal tersebut terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak stabil di kisaran 4.500 dan sesekali menyentuh 4.600. Rupiah pun ikut stabil di kisaran Rp14.700 per dolar AS.

"Karena pasar melihat bahwa pemerintah mempunyai ruang kewenangan yang leluasa untuk mendesain skema pemulihan ekonomi dengan independen, selama 3 tahun ke depan," ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, Jumat (22/5).

Lebih lanjut, Ajib mengatakan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) didesain oleh pemerintah dengan dana sebesar Rp641 triliun. Dengan acuan PDB Indonesia sebesar Rp16.000 triliun, dana program ini hanya sekitar 4%, angka rasio yang relatif kecil dibandingkan anggaran negara lain untuk bisa keluar dari covid-19.

Dana Program PEN ini akan banyak dialirkan untuk menggerakkan mesin-mesin perekonomian yang diharapkan oleh pemerintah, bisa menjadi daya ungkit ekonomi secara masif.

"Mesin itu ada di BUMN dan di sektor UKM. BUMN mendapat alokasi hampir Rp150 triliun, sebagai bagian penguatan struktur modal dan penguatan peran BUMN sebagai lokomotif penggerak perekonomian. 

Baca juga: Menuju Normal Baru, Bappenas Rumuskan Protokol Masyarakat

Dana UKM, akan mendapat penjaminan kredit dari pemerintah, sehingga dana kredit bisa mengalir untuk menjaga likuiditas para pelaku usaha sektor UKM yang memberikan kontribusi kepada PDB sekitar 60% pada tahun 2019 kemarin," sambungnya.

Dengan alokasi anggaran dari pemerintah ini, confident level pasar dikatakan cenderung naik dan sangat positif untuk pergerakan ekonomi ke depannya.

Selanjutnya, ketika pemerintah sudah mulai membuat kelonggaran pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ekonomi akan mulai rebound pada semester 2 dan secara kumulatif pertumbuhan ekonomi di akhir 2020 masih bisa positif. Bahkan IHSG bisa menguat ke angka 5.000.

"Dengan konsistensi pemerintah menterjemahkan gagasan Presiden Jokowi tentang transformasi ekonomi, penguatan sektor manufaktur dan hilirisasi serta pembuatan nilai tambah, maka size ekonomi Indonesia akan terus membesar, ditambah indikator positif di sisi demand yang luar biasa, jumlah penduduk mencapai 270 juta orang dan bonus demografi yang positif," ujar Ajib.

Meskipun demikian, Ajib menambahlan bahwa pemerintah masih punya tugas menjawab keraguan pasar di level teknis, karena pelaksanaan program di level teknis, rentan dengan inkonsistensi dan potensi free riders yang membelokkan arah kebijakan.

"Tentang bagaimana distribusi alokasi kebijakan, konsep bank jangkar, literasi keuangan UKM yang masih sangat rendah, kriteria BUMN yang layak mendapat alokasi Penyertaan Modal Negara (PMN), lemahnya database yang berimplikasi dengan tepat tidaknya sasaran alokasi jaring pengaman sosial, adalah beberapa detail yang memerlukan jawaban penyelesaian yang presisi," pungkasnya.

Dengan segala detail teknis tersebut, pasar cukup mempunyai keyakinan, bahwa langkah kuda pemerintah dalam mengoptimalkan Perppu Nomor 1 tahun 2020 ini akan menjadi penopang utama ekonomi bergerak positif pasca pandemi. (A-2)

BERITA TERKAIT