22 May 2020, 05:18 WIB

Tiga Fitur Google ini Bantu Komunikasi Penyandang Disabilitas


Bagus Pradana | Weekend

Memperingati Hari Kesadaran Aksesibilitas Global yang jatuh pada pekan ini, Google memperkenalkan tiga aplikasi yang dikembangkan secara khusus untuk memudahkan para penyandang disabilitas dalam bekomunikasi. 

Masalah aksesibilitas yang sering dialami oleh para penyandang disabilitas menjadi perhatian utama dari Google sejak 2015, saat raksasa teknologi yang berpusat di Mountain View, California ini pertama kali memperkenalkan sebuah misi bertajuk Google Impact Challenge: Disabilities. 

Sebaga implementasi dari misi tersebut, Google kemudian aktif mengembangkan berbagai rintisan inovasi teknologi yang diorientasikan untuk meningkatkan kemandirian sosial bagi para penyandang disabilitas ini, termasuk beberapa aplikasi teranyarnya yaitu Google Action Block, Live Transcribe (Transkrip Instan), dan Sound Amplifier (Penguat Suara Portable).

1. Google Action Block

Action Block merupakan fitur baru yang tengah masuk fase akhir uji coba sebelum diluncurkan dalam waktu dekat ini. Fitur iini dibuat sebagai pintasan untuk membantu para pengguna disabilitas mengoptimalkan fungsi digital yang ada di perangkat android, dengan memanfaatkan bantuan Asisten Google. 

Melalui pintasan Action Block, pengguna dapat dengan mudah memainkan musik kesukaan, mengingatkan agenda yang harus mereka datangi, menelpon anggota keluarga, bahkan memesan layanan ojek online hanya dengan menyentuh icon pintasan action block yang ada layar utama ponselnya. Fitur ini mungkin akan tampak biasa saja bagi pengguna normal, namun akan sangat membantu bagi para pengguna yang menyandang disabilitas kognitif seperti autisme, down syndrome, dan dimensia.

"Action Block adalah sebuah fitur yang sedang kami kembangkan untuk membantu para pengguna kami yang menyandang disabilitas kognitif untuk mendapatkan kemandiriannya untuk melaksanakan pekerjaan harian secara mudah, melalui sebuah pintasan yang ada di layar ponselnya," ungkap Ajit Narayan, selaku Lead Engineer dari fitur Google Action Block dalam konferensi virtual yang digelar Google Rabu (20/5).

Fitur ini merupakan pengembangan dari proyek DIVA (Diversely Assisted) inisiasi Lorenzo Caggioni, seorang software engineer dari Google. Lorenzo memiliki seorang saudara penyandang down syndrome yang gemar mendengarkan musik. Untuk menyenangkan saudaranya, Lorenzo berinisiatif menyederhanakan bahasa pemrograman dalam Google Assistant ke dalam sebuah tombol sederhana yang dapat digunakan oleh saudaranya untuk memutar musik kesukaannya.

Prinsip konversi dari proyek DIVA besutan Lorenzo inilah yang kemudian menjadi inspirasi Google menghadirkan fitur yang sejenis untuk membantu lebih banyak penyandang disabilitas.


2. Live Transcribe (Transkripsi Instan)

Pada Februari 2019, Google merilis fitur Transkripsi Instan yang memungkinkan pengguna untuk mengonversi suara menjadi teks secara instan, yang ditujukan kepada para penyandang tuna rungu dan gangguan pendengaran. 

Fitur ini telah didukung dengan teknologi billingual serta sensor pengenal bahasa yang dapat menganalisis secara cepat struktur bahasa yang diucapkan oleh para pengguna. Live Transcribe juga memiliki kualitas transkripsi yang cukup baik, meskipun kinerjanya masih sangat bergantung dengan kualitas suara yang tertangkap oleh jenis mikrofon yang digunakan oleh pengguna. Fitur transkripsi instan ini juga telah mendukung lebih dari 70 bahasa atau dialek di dunia. 

Meskipun telah diluncurkan awal tahun lalu, namun penyempurnaan fitur ini masih tetap dilakukan oleh pihak Google. Baru-baru ini Google mengumumkan telah melakukan update untuk aplikasi transkripsi instannya ini, meliputi opsi penambahan kata, baik nama tempat maupun nama benda ke dalam transkripsi, sensor getar yang dapat menyala saat nama pengguna disebut dalam transkripsi, serta fitur penelusuran.

"Fitur ini baru saja kami update dengan penambahan beberapa fungsi. Saat ini kami sedang menargetkan fitur ini kepada para pengguna senior yang mulai kesulitan mencerna informasi terkait penanganan covid mengalami akibat mengalami gangguan pendengaran," papar Brian Kemler selaku Product Manager, Android Accessibility dari Google.

Ia juga menjelaskan limitasi dari fitur ini yang terdapat pada respons aplikasi saat dalam suasana dengan kondisi kebisingan yang tinggi.

3. Sound Amplifier (Penguat Suara)

Fitur terakhir yang kembali diperkenalkan Google dalam peringatan Hari Kesadaran Aksesibilitas Global tahun ini adalah Penguat Suara portable, fitur ini dapat membantu pengguna untuk mengedit berbagai macam suara yang terdapat dalam ponselnya melalui setelan personalisasi yang disediakan Google. 

Melalui fitur ini, pengguna dapat mengatur preferensi suara yang terdapat dalam ponsel pintarnya, fitur ini kini juga memungkinkan bagi pengguna untuk menampilkan 'Audio Real-time' sehingga pengguna dapat menyesuaikan seberapa banyak suara yang ingin dikurangi atau pun ditingkatkan.

Fitur ini akan sangat membantu pengguna yang sedang berada dalam suasana ramai (bising) dan ingin mendapatkan kualitas suara yang jelas dari ponsel pintarnya. 

"Fitur penguat suara ini memungkinkan anda untuk memperkuat suara yang ada disekitar anda. Yah, memang bukan pengganti alat bantu dengar, namun fitur ini cukup membantu ketika Anda membutuhkan pengaturan suara untuk mendapatkan suara yang jernih dan nyaring yang Anda perlukan," jelas Kemler. (M-2) 

BERITA TERKAIT