22 May 2020, 06:05 WIB

Muruah Halalbihalal


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

DALAM masa pandemi, momentum halalbihalal tetap harus dilaksanakan walaupun modusnya agak berbeda dengan sebelumnya. Istilah halalbihalal sendiri sudah terlihat di mana-mana, bahkan di negara-negara tetangga.

Di Malaysia, misalnya, berawal dari perkebunan kelapa sawit, tempat jutaan WNI bekerja. Setiap seusai Lebaran, mereka berpindah-pindah dari blok ke blok, biasanya berdasarkan asal daerah masingmasing. Kemudian tradisi ini berlangsung di kota-kota yang semula hanya menjadi arena silaturahim antarsesama WNI. Lama-kelamaan halalbihalal menjadi familier di Malaysia. Hal yang sama terjadi juga di negara-negara lain, termasuk di Arab Saudi, Kuwait, dan Amerika Serikat.

Penggunaan istilah halalbihalal bermula dari anakanak muda Masjid Kauman di Yogyakarta. Mereka kebingungan mencari tema karena terjadi dua peristiwa istimewa. Di satu sisi ada perayaan Idul Fitri sebagai wujud kemerdekaan spiritual dan di sisi lain baru saja dilakukan
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagaimana supaya kedua peristiwa itu terangkum menjadi satu? Maka diadakanlah sayembara kecil-kecilan untuk menemukan tema. Salah seorang seniman lalu mengusung tema halalbihalal yang intinya saling memaafkan, saling merelakan, dan saling menghalalkan.

Sejak itu, halalbihalal ikut dilakukan di Jakarta yang pada mulanya berisi pesan kuat soal integrasi nasional. Lapangkan dada dan hilangkan warna-warni lokal di hadapan kebesaran Allah SWT.

Kini halalbihalal menjadi istilah khas dan budaya Indonesia. Halalbihalal diambil dari bahasa Arab yang tidak diketahui maknanya oleh orang-orang Arab. Kalau halal minal haram, mungkin bisa dipahami. Akan tetapi, halalbihalal ialah kata majemuk yang tidak lazim. Itulah keajaiban halalbihalal.

Makna lain dan sekaligus makna inti dari halalbihalal ialah bersilaturahim. Bersilaturahim dengan sesama manusia (mikrokosmos) ialah biasa. Akan tetapi, bersilaturahim dengan alam raya (makrokosmos) sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan terasa masih langka dan belum terlembagakan.

Padahal, Rasulullah SAW telah mencontohkan silaturahim dan menjalin hubungan keakraban dengan lingkungan sekitarnya, seperti lingkungan alam, misalnya tanah, air, dan langit, lalu lingkungan hidup, seperti fauna dan flora, dan lingkungan makhluk spiritual, seperti bangsa jin, malaikat, dan para arwah manusia terdahulu.

Tidak ada ‘benda mati’ dalam kamus Tuhan. Benda mati hanya dikenal dalam kamus manusia biasa. Hal ini ditegaskan di dalam Alquran: “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. (QS Al-Isra:44).

Bersilaturahim dengan mereka tidak kalah pentingnya dengan manusia. Gagal membangun silaturahim dan keakraban dengan makhluk
makrokosmos bisa membawa malapetaka bagi manusia. Hal ini sudah diingatkan Allah di dalam Al-Quran: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS Ar-Rum:41).

Demikian pula bersilaturahim dengan fauna dan fl ora banyak dicontohkan dalam pengalaman hidup nabi. Sebuah hasil penelitian di Jepang membuktikan hal ini dengan melaporkan bahwa anggrek yang dipelihara dengan penuh kasih sayang akan berbunga jauh lebih indah ketimbang anggrek yang dipelihara tukang kebun yang hanya menjalankan rutinitas dengan motivasi memperoleh gaji dari majikannya.

Kita kini bisa melakukan halalbihalal melalui media elektronik atau media-media konvensional lainnya. Pengiriman oleh-oleh, mungkin karena banyak di antara kita yang tidak mudik, juga tetap bisa dilakukan melalui jasa pengiriman. Bahkan, bentuk pengiriman uang saat ini bisa melalui telepon, yaitu online banking.

BERITA TERKAIT