22 May 2020, 05:50 WIB

Idul Fitri Momentum Normal Baru


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

PERAN mayoritas umat Islam di Indonesia sangat besar dalam mengalahkan virus korona baru (covid-19) jika mengikuti protokol kesehatan. Karena itu, kaum muslim mesti bersatu di masa pandemi ini.

“Apabila muslim Indonesia mengubah perilaku dengan protokol kesehatan, ini aset bangsa yang besar sekali untuk menang. Sebentar lagi
Idul Fitri, kita bulatkan seluruh kemampuan bangsa. Mari kita tunjukkan kemenangan untuk menghadapi covid-19,” ujar Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam diskusi virtual Masjid Nursiah Daud Paloh (NDP) bertajuk Kemenangan Idul Fitri Menuju Normal Baru di Masa Pandemi, kemarin.

Turut menjadi pembicara dalam diskusi itu Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong dan Sekjen PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruquthni.

Lebih lanjut, Wiku mengatakan doktrin bencana ialah menangani bencana tidak boleh menimbulkan bencana baru. Karena itu, pihaknya tak hanya melindungi masyarakat supaya tidak terpapar covid-19, tapi juga melindungi masyarakat jangan sampai terkapar oleh pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Berdasarkan perintah Presiden, masyarakat diamankan dari covid-19 dan kembali kepada aktivitas sosial ekonomi yang aman. Namun, kondisi itu tidak bisa dilakukan sekaligus, tentunya dibutuhkan tahapan-tahapan,” tambah Prof Wiku.

Di sisi lain, Usman Kansong mengatakan Idul Fitri baru disebut merayakan kemenangan apabila umat Islam berhasil menjaga kedisiplinan dalam berpuasa, menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa.

Namun, lanjut Usman, fakta nya ironis. Menjelang Lebaran, sebagian umat bukan menahan diri keluar rumah agar tak tertular covid-19, tetapi justru berduyun-duyun ke pasar dan mal membeli persiapan Lebaran.

“Lebaran sebuah kemenangan apabila kita menjaga kedisiplinan setelah ditempa sebulan penuh berpuasa. Tak mungkin sebuah pasukan menang melawan musuh jika tidak disiplin. Begitu pula kalau bangsa ini mau menang berperang melawan virus korona, harus disiplin,” tambah Usman.

Sebab itu, ujarnya lagi, harus ada pendisiplinan. Harus ada upaya secara struktural melalui penegakan regulasi. “Itu yang harus kita lakukan memasuki kehidupan normal baru di masa pandemi,” tukasnya.

Silaturahim daring

Di acara yang sama, Imam Addaruquthni mengatakan kondisi memasuki normal baru tentunya bukan seperti pola sebelumnya seperti physical distancing (jaga jarak fisik), melainkan berupa spektrum lain. Misalnya soal peribadatan yang berubah dan ritual silaturahim saat Lebaran juga dalam suasana berbeda.

Secara terpisah, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengimbau masyarakat untuk bersilaturahim secara daring saat perayaan Idul Fitri tahun ini. Ia mengatakan menahan diri untuk tidak bersilaturahim merupakan langkah bijak di tengah pandemi covid-19.

Ma’ruf pun meminta Majelis Ulama Indonesia dan tokoh Islam memberikan imbauan kepada masyarakat. Jika perlu, kata Wapres, ada fatwa yang mengatur pembatasan silaturahim saat Idul Fitri.

Menteri Agama Fachrul Razi juga kembali mengingatkan masyarakat untuk menjalankan Hari Raya Idul Fitri di rumah. Menag menyebut perjuangan untuk menekan angka kasus covid-19 tidak boleh sia-sia. (Faj/Ifa/Pra/Alw/X-7)

BERITA TERKAIT