22 May 2020, 05:30 WIB

Lebaran di Rumah Saja


Rahmatul Fajri | Humaniora

KURVA pertumbuhan kasus positif covid-19 belum juga melandai. Kemarin, bahkan terdapat penambahan 973 kasus dalam sehari yang merupakan penambahan harian tertinggi. Pada saat bersamaan, keramaian justru marak di berbagai wilayah Tanah Air belakangan ini.

Kekecewaan di kalangan para tenaga kesehatan yang bertugas menangani pasien covid-19 pun meruak. Tagar #Indonesiaterserah spontan mencuat menjadi trending di media sosial sebagai cerminan atas kekecewaan itu.

Dari RSUP Dr M. Djamil Padang, Sumatra Barat, dr Emilia Nissa Khairani mengungkapkan munculnya #Indonesiaterserah merupakan wujud keputusasaan tenaga kesehatan atas maraknya kerumunan di saat pandemi belum teratasi. Dia memaparkan tagar pertama kali muncul saat beredar foto-foto penumpang yang berdesak-desakan di Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu.

“Setelah pengorbanan kita selama ini, tiba-tiba semua seperti sia-sia karena akumulasi kejadian dan kebijakan yang belakangan ada. Ini dirasakan bukan hanya kami para tenaga kesehatan, juga semua instansi di lapangan sejak ada wabah,” paparnya.

Ia merasa miris saat menjelang Lebaran melihat orang masih beramai-ramai membeli baju di mal. “Artinya, kami akan bekerja dengan beban semakin berat, pasien semakin banyak, dan personel semakin sedikit.”

Begitu pun, walau ada #Indonesiaterserah, Emilia meyakini tenaga kesehatan tidak ada yang menyerah. Namun, ia meminta warga tetap di rumah saat Lebaran.

Dekan Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hari Hendarto, pun mengimbau masyarakat untuk tetap berada di rumah selama Hari Raya Idul Fitri. Hal itu akan mencegah penyebaran covid-19 yang terus melonjak beberapa hari ini.

“Mudik di tengah pandemi bisa memperbesar risiko penularan. Silaturahim dengan orangtua dan sanak saudara penting, tapi jangan sampai justru dengan mudik kita malah membawa dan menularkan virus ke keluarga tercinta di kampung halaman,” kata Hari, kemarin.

Dokter spesialis penyakit dalam itu mengatakan, jika masyarakat mampu menerapkan hal itu, berarti turut membantu meringankan kerja tenaga kesehatan yang selama ini telah berjuang melawan covid-19. “Ya, hargai para tenaga medis. Masyarakat harus menyadari bahwa upaya penghentian covid-19 harus berbasis komunitas. Jadi, diharapkan peran dan kerja sama masyarakat bersama tenaga medis untuk memutuskan rantai penularan covid-19,” kata Hari.

Secara terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang Banyumas, Nugroho Harbani, pun meminta masyarakat lebih disiplin karena proses pengobatan bagi pasien covid-19 cukup lama dan menelan biaya besar. “Jika membayar sendiri dan tidak ada bantuan pemerintah, seorang pasien dapat menghabiskan Rp30 juta hingga Rp50 juta.”

Jangan egoistis

RL, 38, yang pernah diisolasi akibat positif covid-19 di RSUD Sungai Lilin Sumsel pun mengungkapkan pahitnya menjadi pasien korona.

“Dua kali dites swab rasanya sakit. Bayangin saja benda asing masuk dari hidung sampai ke tenggorokan. Susah diungkapkan kalau tidak merasakan sendiri. Jadi, jangan sampai deh tes swab, lebih baik mencegah daripada tes swab,” terangnya.

Dia berharap masyarakat dapat menjaga diri dan mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah. “Jangan egoistis. Tidak usah keluar rumah untuk silaturahim kemana-mana saat Lebaran.”

BL, mantan pasien korona di RSPAD Gatot Soebroto, mengungkapkan pengalaman serupa. “Saya memang drop dan 3 jam menggunakan bantuan oksigen,” tutur BL kepada Media Indonesia, Kamis (21/5).

Bahkan, saturasi pernapasannya sempat juga turun. Beruntung, setelah itu kondisi dirinya terus membaik dan dokter pun mengisolasi saya di rumah. Ia pun berpesan agar jangan sampai terinfeksi covid-19.

“Karena itu, jangan keluar rumah, deh. Kalau sakit, masa penyembuhannya bikin frustrasi,” tutur BL. (Fer/Sru/Pra/Ykb/AS/PO/RF/LD/X-6)

BERITA TERKAIT