21 May 2020, 23:42 WIB

Kamar Hotel bagi Tenaga Medis Nagekeo,Ini Kata Konsultan Keamanan


Ignas Kunda | Nusantara

POLEMIK pro-kontra pemberian hotel buat para tenaga medis di Kabupataen Nagekeo, Nusa Tenggara Timur yang dipersoalkan oleh sejumlah anggota DPRD kabupaten Nagekeo mendapat beragam tanggapan.

Sebelumnya 12  tenaga medis termasuk kepala dinas kesehatan Nagekeo, NTT harus dikarantina di Hotel Sinar Kasih, Kota Mbay setelah melakukan kontak dengan salah satu pasien positif covid 19 pada saat bertugas. 

Kondisi itu membuat sejumlah anggota DPRD Nagekeo dari partai Golkar yang dikutip sejumlah media sebagai pemborosan anggaran dan menghabiskan uang  memanfaatkan situasi.

Alto Labetubun, warga negara Indonesia sebagai analis konflik dan konsultan keamanan yang berkerja di Irak ketika dimintai tanggapannya menjelaskan kepada Jurnalis Media Indonesia bahwa tenaga kesehatan atau paramedis sama halnya juga prajurit di medan pertempuran dalam konteks pandemi covid 19 ini.

Menurut pria yang pernah bertugas di Afganistan, Yaman dan Sudan Selatan ini, tenaga medis sama halnya tentara disiapkan untuk perang tanpa harus mati atau gugur di medan perang.

Baca juga : PSBB di Palembang ASN Kerja hanya Lima Jam

“Tentara itu disiapkan untuk perang, tapi bukan berarti mereka harus mati. Mereka disiapkan untuk perang, supaya jangan mati. Demikian pula dengan tenaga kesehatan. Mereka disiapkan untuk menghadapi wabah tanpa harus mengorbankan jiwanya,” Kata lulusan Peace dan Conflict resolution di Queensland University, Australia itu.

Selain itu menurut Alto Labetubun, tetap harus ada perbedaan perlakukan buat pasien covid 19 dan para tenaga medis karena sebagai sebuah bentuk penghargaan terhadap para tenaga medis itu pada masa pandemi ini.

Bagi Alto tenaga kesehatan  memang perlu diberikan penghargaan atas pekerjaan mereka dalam menangani pandemi ini. Model penghargaan pun berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dari individu maupun ketersediaan 'resources'.

Memberikan fasilitas hotel mungkin salah satu yang bisa diberikan, jika itu adalah kebutuhan. Tapi memang ini harus dilakukan berdasarkan asesmen di lapangan.

“Kalau memang fasilitas itu ada, kenapa tidak? Sebagai bagian dari penghargaan kepada mereka, ya mungkin tepat ya.. Kalau memang bisa, kenapa gak? Toh perawat yang sembuh lebih cepat, akan kembali merawat orang yang sakit, sedangkan warga biasa, tugasnya lebih berbeda dengan perawat. Sebagai pembanding dari kacamata militer, tentara negara-negara maju itu kalau belanja online dapat diskon khusus, ini adalah bentuk penghargaan kepada mereka, ” ungkapnya.

Alto menambahkan, pada kalangan militer atau kombatan mengenal istilah: Combat Fatigue yaitu kondisi kelelahan psikologis seseorang saat berada dalam perang yang berkepanjangan dengan kondisi harus siap setiap saat, dan tidak melihat adanya perubahan yang berarti.

Combat fatigue juga bisa terjadi ketika kondisi di lapangan direspon dengan aturan-aturan yang dianggap tidak mendukung kondisi riil di lapangan. 

Bagi Alto, para dokter dan perawat ini adalah 'prajurit' yang sedang berada di front-front pertempuran dengan Covid-19. Mereka merespon kasus-kasus di rumah-rumah sakit, tapi di saat yang sama melihat tidak adanya atau kurangnya komitmen pihak lain untuk mendukung apa yang mereka lakukan di lapangan. 

“Sama dengan prajurit militer yang merasa bahwa Rules of Engagements dibuat oleh politisi dan/atau orang-orang di belakang meja, para dokter dan perawat ini 'mungkin saja' melihat hal yang sama, bahwa kebijakan yang dilakukan oleh politisi di belakang meja itu tidak realistis," ujarnya

Baca juga : Kisah Sedih Tenaga Medis yang Positif Covid-19

“Apalagi diperparah ketika orang-orang di samping mereka mulai bertumbangan dan harus tewas dalam pertempuran di front yang sama,” imbuhnya. 

Alto menambahkan Combat Fatigue itu hal yang wajar terjadi, baik pada tentara, maupun, dalam konteks Covid-19, bagi para Dokter dan Perawat. 

Kalau hal ini tidak diminimalkan, maka kemungkinan mereka masuk dalam kondisi PTSD: Post Traumatic Stress Disorder pasca krisis juga tinggi. 

“Nah, fenomena dokter dan perawat yang menaikkan tagar "Indonesia terserah" menurutku merupakan bentuk yang mirip dengan 'Combat Fatigue',” Pungkas pria kelahiran Pulau Key, Maluku.

Post traumatic stress disorder, atau ganguang stress pascatrauma adalah ganguan mental yang muncul setelah seseorangmegalami atau menyaksikan peristiwa penting yang tidak menyenangkan atau mengerikan akibat perang kematian kecelakaan dan lain sebagainya. (OL-7) 

BERITA TERKAIT