22 May 2020, 02:55 WIB

Tiza Mafira Benahi Proses Memasak


Abdillah Marzuqi | Humaniora

MASAK tidak sekadar memproses bahan mentah menjadi siap makan, tetapi juga ada manfaatnya sebagai terapi. Tidak perlu jago masak atau bahkan menjadi koki andal. Cukuplah mau berkutat di dapur dengan berbagai alat masak dan bahan.

Tiza Mafira termasuk salah satu dari banyak orang yang percaya manfaat relaksasi dan terapi yang didapat ketika memasak. Aktivis lingkungan itu mengaku memasak bisa menjadi caranya relaksasi kala menghadapi stres.

“Enggak jago-jago amat masak, tapi kalau aku lagi stres seperti saat ini, ternyata membantu banget untuk relaksasi,” terang Tiza dalam Instagramnya @tzmfr, Selasa (19/5).

Proses relaksasi tentu sangat membantu diri dalam menyikapi kehidupan di masa pandemi saat ini. Berada di rumah dalam jangka waktu lama pasti punya efek tersendiri. Memasak adalah salah satu solusi.

Baginya, relaksasi dalam memasak ialah ketenangan batin. Ketenangan itu diperoleh dengan kesadaran tentang segala hal punya tempat masing-masing. Yang harus dilakukan ialah menempatkan hal tersebut sesuai tempatnya.

Tiza lebih lanjut mengungkapkan, dirinya tidak hendak memfokuskan pada kemampuan dalam meracik bumbu. Tidak pula ia mau berkutat dengan keahlian potongmemotong bahan. Ia justru lebih menekankan pada proses memasak yakni pengelolaan sampah.

“Belakangan lagi membenahi ‘proses’ masak, bukan skill-nya,” tambah perempuan yang didaulat sebagai Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) itu.

Ia menyebut salah satu yang harus langsung dirapikan dalam proses itu adalah belanjaan. Usai belanja, Tiza langsung melepaskan bahan makanan dari bungkusnya. Kemasan berbahan plastik langsung dipisahkan dan dikumpulkan menjadi satu.

“Kalau habis belanja, langsung beberes. Kemasannya dipretelin, sampahnya dipisah,” sambungnya.


Food prep

Tidak hanya soal bungkus, penyandang penghargaan UN Ocean Hero 2018 itu juga langsung mengolah bahan makanan agar separuh jadi. Istilah kekiniannya, food-prep atau food preparation. Tampak dari unggahannya ialah pada saat ia menyiapkan buah dan sayuran.

Ketika tidak berencana mengolah bahan makanan tersebut seketika, ia memilih mencuci dan mematangkan bahan makanan itu sebelum disimpan. Hal itu dilakukan agar bahan makanan menjadi lebih awet. Tak lupa tempelan label agar bahan makanan mudah diidentifikasi.

“Makanan yang dimasaknya bakal masih lama, dicuci atau dimatangi dulu biar awet. Masuk wadah, dikasih label,” sambungnya.

Tiza juga membagi cara agar memudahkan pemilahan sampah dari proses memasak. Selain memperhatikan kerapian peralatan dan keurutan proses memasak, ia juga menganjurkan agar selalu menyediakan mangkok untuk menaruh sisa makanan.

“Peralatan masak rapi, masak berurutan. Selalu ada mangkok di sebelah kiri untuk taruh sisa makanan saat food-prep (mempersiapkan makanan), supaya meja rapi dan sampah gampang masuk kompos,” sambungnya.

Tiza mencontohkan sampah cangkang telur pada mangkok yang langsung dimasukkan ke tempat sampah organik. Baginya, ada ritmis dalam proses. Seiring waktu, kendali atas diri akan muncul ketika bisa mensenyawai ritme tersebut. Pada puncaknya, ketenangan batin akan muncul sebagai buah kesadaran. “Semua ada tempatnya, dan semua kembali ke tempatnya. Lama-lama terasa ada ritme yang terbangun, ada kendali, ada ketenangan batin,” kata dia. (M-2)

 

BERITA TERKAIT