22 May 2020, 00:35 WIB

Topan Amphan Akibatkan Kehancuran di India dan Bangladesh


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

TOPAN paling ganas Teluk Benggala dalam beberapa dasawarsa menghantam India timur dan Bangladesh, Rabu (20/5). 

Topan itu menewaskan sedikitnya 22 orang dan menghancurkan ribuan rumah. Peristiwa ini membuat lebih dari 2,6 juta orang melarikan diri ke tempat penampungan ketika pandemi virus corona terjadi. Negara bagian Benggala Barat yang berpenduduk padat di India, termasuk yang paling terdampak hantaman topan Amphan, yang melesat keluar dari Teluk Benggala dengan hembusan angin hingga 185 km per jam dan gelombang badai sekitar lima meter.

Menteri Utama Benggala Barat, Mamata Banerjee, mengatakan sedikitnya 12 o rang telah tewas di negara bagian itu dan dua distrik benar-benar hancur terpukul salah satu badai terkuat yang melanda wilayah itu dalam beberapa tahun. “Area demi area telah hancur. Komunikasi terganggu,” kata Banerjee seraya menambahkan, meskipun 500.000 orang telah dievakuasi, otoritas negara tidak sepenuhnya mengantisipasi keganasan badai.

Otoritas federal mengatakan mereka baru bisa membuat penilaian yang tepat tentang kehancuran pada Kamis (21/5) pagi. “Kami menghadapi kerusakan dan kehancuran yang lebih besar daripada covid-19,” kata Banerjee dengan merujuk pada penyakit yang disebabkan oleh virus korona baru, yang sejauh ini telah menewaskan 250 orang di negara bagian itu. 

Di ibu kota Bengal Barat, Kolkata, angin kencang membalikkan mobil dan menumbangkan pohon dan tiang listrik. Akibatnya masyarakat di sebagian dari kota itu hidup di tengah kegelapan.

Sementara itu, pejabat di Bangladesh mengatakan 10 orang tewas termasuk seorang bocah lelaki berusia lima tahun dan seorang lelaki 75 tahun yang tertimpa pohon, serta seorang sukarelawan tenggelam.


Penghancuran besar-besaran

Topan itu melemah saat bergerak ke utara melalui Bangladesh, tetapi masih melepaskan hujan lebat dan angin kencang di Cox’s Bazar, distrik yang menampung sekitar satu juta pengungsi Rohingya dari kekerasan di Myanmar.

Amphan ialah ‘topan super’ pertama yang terbentuk di atas Teluk Bengal sejak 1999 dan angin yang berhembus kencang hingga 185 kilometer per jam di laut. Ini membawa gelombang badai dinding air laut yang sering menjadi salah satu pembunuh utama dalam sistem cuaca utama-- yang meraung ke daratan. 

Anwar Hossain Howlader, seorang pejabat di Distrik Pantai Khulna di Bangladesh, mengatakan gelombang tiga meter (10 kaki) telah menghancurkan tanggul yang melindungi desa-desa. 

“Itu menyebabkan kehancuran besarbesaran. Ribuan pohon telah tumbang. Tanggul telah runtuh di banyak tempat, membanjiri banyak desa. Kerusakan dan kehancuran tanaman dan peternakan ikan sangat besar,” katanya.

Wilayah dataran rendah Bangladesh, tempat tinggal 30 juta orang, dan timur India secara teratur dihantam angin topan yang telah merenggut nyawa ratusan ribu orang dalam beberapa dekade terakhir.

Negara Bagian Odisha di India timur dilanda topan super yang menewaskan hampir 10.000 orang pada 1999, delapan tahun setelah topan, tornado, dan banjir menewaskan 139.000 di Bangladesh. Pada 1970 topan Bhola menewaskan setengah juta orang.

Karena pandemi korona, pihak berwenang menggunakan ruang perlindungan ekstra untuk mengurangi kepadatan. Mereka juga mewajibkan memakai masker wajah dan menjaga jarak sosial. (France 24/AFP/I-1)
 


 

BERITA TERKAIT