22 May 2020, 00:10 WIB

WHO Prihatin Lonjakan Covid-19 di Negara Miskin


MI | Internasional

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan keprihatinan atas meningkatnya jumlah kasus virus korona baru (covid-19) di negara-negara miskin ketika banyak negara kaya mulai melonggarkan lockdown.

Badan kesehatan global mengatakan 106.000 kasus baru infeksi covid-19 tercatat dalam 24 jam terakhir, terbesar dalam satu hari sejak wabah merebak.

“Kita masih meniti jalan panjang dalam menghadapi pandemi ini,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers. “Kami sangat prihatin dengan meningkatnya kasus di negara berpenghasilan rendah dan menengah.” Sementara itu, Kepala Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan, memperingatkan, “Kita akan segera mencapai tonggak tragis 5 juta kasus.” 

WHO mendapat kecaman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menuduh organisasi kesehatan dunia itu salah menangani wabah dan mendukung Tiongkok, asal virus itu diyakini muncul akhir tahun lalu. Trump juga mengancam akan menarik AS dari WHO dan secara permanen menahan pendanaan.

Tedros mengatakan dia telah lama mencari sumber pendanaan lain untuk WHO dengan mengatakan anggarannya sebesar US$2,3 miliar ‘sangat, sangat kecil’ untuk sebuah agen global, setara sekitar anggaran rumah sakit berukuran sedang di negara maju.


Pembunuhan massal

Trump kembali mengecam Tiongkok atas pandemi covid-19 dan menyalahkan Beijing atas pembunuhan massal di seluruh dunia. 

“Beberapa orang gila di Tiongkok baru saja merilis pernyataan yang menyalahkan semua orang selain Tiongkok atas virus yang kini telah membunuh ratusan ribu orang,” kata Trump dalam akun Twitter-nya.

“Tolong, jelaskan kepada orang bodoh ini bahwa itu ialah ketidakmampuan Tiongkok dan tidak ada yang lain, yang melakukan pembunuhan massal di seluruh dunia ini!” imbuh dia seperti dikutip Channel News Asia, Jumat (21/5).

Trump awalnya mengecilkan keseriusan ancaman dan mengatakan berulang kali bahwa Tiongkok sedanng menangani wabah virus korona. Dia kemudian berpaling menyalahkan Tiongkok karena membiarkan penyebaran ke seluruh dunia. (CNA/Hym/I-1)

BERITA TERKAIT