21 May 2020, 18:35 WIB

Isolasi di Rumah Sakit Lebih Membosankan Ketimbang Diam di Rumah


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Humaniora

Udara panas langit Jakarta tak membuat BL mengendurkan niatnya untuk bekerja dan membeli barang keperluannya untuk menghadapi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Ibu Kota.

Sejatinya, BL telah mengikuti panduan pemerintah untuk disiplin mencuci tangan dan jaga jarak saat berada di luar rumah.

Tak dinyana, saat pulang kembali ke rumah, BL tiba-tiba demam, dan muntah-muntah. Ia pun mendatangi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD) untuk mengecek dan melakukan swab test.

BL pun harus bermalam di RSPAD untuk mengetahui hasil dari swab test.

“Cuma di hari ketiga di rumah sakit, saya memang agak drop. Jadi, sempat tiga jam full menggunakan bantuan oksigen,” tutur BL, Kamis (21/5).

Baca juga: Hari ini Kasus Penambahan Positif Korona Tertinggi

Bahkan, saturasi pernapasan juga turun. Untungnya, setelah itu kesehatannya terus membaik dan diminta oleh dokter untuk isolasi di rumah.

“Karena kalau saya di sana, kata dokter saya akan makin parah keadaannya,” ungkap BL.

Selama isolasi mandiri di rumah, lanjutnya, BL merasa agak takut. "Makanya ada satu malam saya tak bisa napas. Napas saya keluarnya 1-1 jedanya sekitar 4-5 detik sekali,” paparnya.

Rasa sakit yang dirasakan BL akhirnya terbayarkan. Usai dirawat selama 5 hari di RS dan isolasi di rumah selama 14 hari, BL pun dinyatakan negatif covid-19.

Kini, melihat masyarakat Indonesia yang membandel, BL pun berpesan agar warga tetap di rumah dan jangan keluar terlebih dahulu.

“Jangan keluar dulu deh. Duh, sakitnya tuh parah. Kesempatan sembuhnya emang besar. Tapi masa penyembuhannya bikin frustasi sendiri. Kalau gak siap, yang ada makin drop,” tambahnya.

BL berharap masyarakat Indonesia tidak egois meski tengah bosan berdiam diri di rumah. Rasa bosan di rumah bagi BL tak ada apa-apanya dibandingkan dengan diisolasi di rumah sakit. (OL-14)

 

BERITA TERKAIT