21 May 2020, 16:07 WIB

Curhat Tenaga Medis: Warga Tak Patuh Karena Pemerintah Tak Tegas


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

TERKAIT dengan masifnya keramaian yang terjadi belakangan ini. Sehinga timbul pesimisme sejumlah pihak dalam upaya pemerintah memerangi Covid-19. Bahkan para tenaga kesehatan ikut dalam barisan tagar Indonesia terserah akibat prilaku masyarakat yang ngeyel, dan meremehkan protokol kesehatan.

Salah seorang petugas kesehatan RSUP Dr. M. Djamil Padang, Sumatera Barat dr. Emilia Nissa Khairani mengatakan sebenarnya dari awal pemerintah sudah memberikan himbauan yang sangat sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan covid. Namun tingkat kepatuhan di masyarakat dinilai sangat rendah.

"Disini juga bisa dilihat bahwa imbauan pemerintah tersebut tidak diikuti dengan sanksi yang tegas. Sehingga, kesadaran masyarakat kurang ditambah tanpa sanksi tegas, semakin jauh lah dari harapan kita semua tentang jalannya PSBB yang seharusnya," kata Emilia kepada Media Indonesia, Kamis (21/5).

Namun demikian, para nakes sangat memaklumi jika masyarakat terpaksa keluar untuk mencari nafkah. Kata Emilia, karena itu juga perjuangan besar bagi mereka, sebab mereka juga tidak mungkin bertahan hidup tanpa penghasilan. Namun yang sangat disayangkan adalah mereka yang keluar rumah dengan alasan yang tidak krusial.

"Alasanya seperti bosan, ngabuburit (berkeliaran tanpa masker), berdesak-desakan beli baju lebaran, bahkan ada yang menganggap remeh virus ini sehingga ia menjalani kehidupannya spt biasa seakan tdk terjadi apa-apa," sebutnya

Dia memaparkan tagar Indonesia terserah itu pertama kali muncul saat beredarnya foto-foto penumpang yang berdesak-desakan di Bandara Soekarno Hatta.

"Saya merasa, itu adalah wujud keputusasaan kami para nakes, setelah pengorbanan kita selama ini, tiba-tiba semua seperti sia-sia karena akumulasi kejadian dan kebijakan yang belakangan ada di masyarakat. Tentu ini tidak hanya dirasakan oleh kami para nakes, melainkan semua instansi yang turun ke lapangan sejak wabah ini menimpa Indonesia," paparnya.

Namun, walaupun ada kata terserah, Emilia yakin semua para nakes tidak ada yang menyerah. Mereka tetap berdinas dan tetap mendahulukan hati nuraninya. Dengan harapan musibah ini segera berakhir.

"Harapannya masyarakat maupun pemerintah terus mendukung kami. Karena menghadapi pandemi bukan hanya perjuangan para nakes, melainkan perjuangan kita bersama," lanjutnya.

Emilia juga menceritakan kondisi kehidupannya yang telah hampir 2 bulan tidak memeluk dan menemani kedua buah hatinya. Bahkan sepanjang aktivitas di rumah, ia harus menggunakan masker dan tetap mementingkan protokol kesehatan.

"Sudah hampir 2 bulan saya dan suami tidak sekamar dengan anak-anak, dan memakai masker sepanjang hari saat interaksi dengan anggota seisi rumah," ujarnya.

Selama itu pula dirinya tidak mencium dan memeluknya. Sementara mereka setiap saat membuka pintu kamar dan berharap dipeluk dan dicium orangtuanya. Ia bersama suami yang juga seorang dokter berpikir kondisi ini tidak akan berlangsung lama.

Namun begitu ada informasi bahwa PSBB dilonggarkan dan imbauan untuk penyelenggaraan lagi salat berjamaah di Masjid. Justru membuat kondisi mereka nyaris putus asa.

"Kami nyaris putus asa. Belum terlihat dimana ujungnya situasi ini. Tentunya ini belum seberapa, dibanding teman-teman saya yang mengirim anak-anaknya ke tempat lain dan tinggal sendirian karena takut ia menjadi pembawa (carrier) tanpa gejala dan menginfeksi orang-orang yang ia cintai," lanjutnya.

Sikap masyarakat yang tidak patuh ini justru harus memicu semangat dan menguatkan hati ini bekerja melayani masyarakat sekalipun sebagian besar mereka yang abai protokol kesehatan tersebut.

"Kami harus stock lebih banyak APD. Kami harus stock lebih banyak vitamin dan kami harus siap menerima lebih banyak teman-teman kami, bahkan mungkin kami sendiri nanti terinfeksi virus ini," paparnya.

Bahkan ada petugas media yang mual dan sakit kepala hebat setelah beberapa jam memakai APD tersebut tetapi mereka tetap harus lanjut bekerja

Ada petugas yang harus dan sering mandi air dingin tengah malam saat keluar dari zona merah Covid karena tidak mau membawa virus itu keluar.

Ada petugas yg baru bisa berbuka puasa pukul 9 bahkan pukul 10 malam karena ia harus menyelesaikan tugasnya dulu sebelum bisa melepas Hazmat yang dipakainya.

Ada petugas yang tiba-tiba menangis saat sedang dinas karena menahan rindu yang sangat dengan keluarganya, dan bahkan untuk menyeka air mata saja ia tidak bisa karena takut terkontaminasi.

"Ah sudahlah.. kalian pasti sudah sering mendengar cerita-cerita pilu ini. Mungkin jauh lebih memilukan lagi dari ini. Tapi mungkin berjalan-berjalam sore sambil membeli pabukoan (takjil) tanpa masker lebih penting bagi kalian," tulis Emilia dalam halaman media sosialnya.

Bahkan lebih mirisnya, beramai-ramai membeli baju lebaran di mall dan manjadi prioritas bagi sebagian orang.

"Kami hanya perlu tetap bekerja dengan beban yg semakin berat, pasien yang semakin banyak, dan personel yang semakin sedikit. Semoga pandemi ini segera berakhir," pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT