21 May 2020, 15:24 WIB

Tim Medis Covid-19 Kupang, Melawan Rasa Takut


Palce Amalo | Nusantara

KETAKUTAN muncul sejak awal pembentukan tim medis yang bertugas merawat pasien terpapar virus korona (covid-19) di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Tim covid-19 RS Bhayangkara beranggotakan 30 orang antara lain dokter spesialis, delapan perawat, bagian pengendali infeksi, bagian administrasi hingga bagian sampah medis, dipimpin Komisaris dokter Herry Purwanto.

Selain tidak boleh kembali ke rumah selama satu bulan, setiap saat mereka memiliki potensi besar turut terpapar virus korona. Kondisi seperti itu dimaklumi, karena selain merawat pasien, dokter dan perawat juga menjaga diri mereka agar tidak terjangkit virus tersebut.

Untuk menghilangkan rasa takut terutama perawat, pihak rumah sakit terus memberikan edukasi. "Kita edukasi mereka bahwa ini kerja kemanusiaan, kalau bukan kita yang urus, siapa lagi yang mengurus mereka," kata dokter Herry Purwanto saat dihubungi lewat telepon.

Menurutnya, edukasi terus dilakukan setiap hari sampai para perawat berhasil menguasai diri mereka tidak stres dan sudah terbiasa mengenakan alat pelindung diri (APD) level 3. Dari delapan perawat tersebut, mereka merawat pasien dengan sistem shift. Lepas tugas, mereka diantar ke lokasi karantina terpusat perawat di hotel milik pemerintah daerah, Hotel Sasando.

Baca juga :Polisi Ungkap Identitas Pelanggar PSBB Bergamis di Surabaya

Setiap shift terdiri dari dua orang bertugas selama delapan jam, tidak makan, tidak ngemil, dan beberapa di antaranya tidak minum dan tidak pergi ke kamar mandi. "Ada perawat yang berpengalaman itu yang masih bisa minum," ujarnya.

Selama delapan jam tersebut, selain merawat pasien, mereka tetap berada di ruangan dengan APD lengkap. "Di ruangan ada AC dan dan mereka menonton tv," ujarnya.

Salah satu prosedur tetap yang harus dilaksanakan perawat ialah tidak boleh menyentuh wajah dan tidak boleh stres. Semua itu, seluruh perawat juga menjalani rapid test setelah tujuh hari bertugas untuk mengetahui perkembangan kesehatan mereka. Menurutnya, hasil rapid test selama ini, semua perawat dalam keadaan sehat.

Yang tak kalah penting ialah, makanan bergizi dan vitamin bagi pasien dan perawat tersedia lengkap dan tepat waktu untuk menjaga kondisi tubuh mereka tetap sehat.

"Di tempat karantina makanan dan vitamin terjamin, tetapi di kita juga siapkan di rumah sakit jika tidak sempat makan dan juga saat piket," ujarnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT