21 May 2020, 14:10 WIB

Topan Amphan Akibatkan Kehancuran di India dan Bangladesh


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Topan paling ganas Teluk Benggala dalam beberapa dasawarsa menghantam India timur dan Bangladesh pada Rabu (20/5). Topan ini menewaskan sedikitnya 14 orang dan menghancurkan ribuan rumah. Pihak berwenang berjuang untuk meningkatkan upaya bantuan di tengah meluasnya wabah covid-19.

Negara bagian Benggala Barat yang berpenduduk padat di India termasuk yang paling terdampak hantaman Topan Amphan, yang melesat keluar dari Teluk Benggala dengan hembusan angin hingga 185 kilometer per jam dan gelombang setinggi lima meter.

Menteri Utama Benggala Barat, Mamata Banerjee mengatakan sedikitnya 10 orang telah tewas di negara bagian itu. Dua distrik benar-benar hancur oleh salah satu badai terkuat yang melanda wilayah itu dalam beberapa tahun.

"Banyak area yang hancur. Komunikasi terganggu," kata Banerjee, seraya menambahkan meskipun 500.000 orang telah dievakuasi, otoritas negara tidak sepenuhnya bisa mengantisipasi keganasan badai.

Baca juga: Warga Argentina Peduli Tenaga Medis Picu Penurunan Kasus Covid-19

Dengan hujan yang terus-menerus, dia mengatakan daerah yang paling sulit terkena dampak tidak segera dapat diakses. Otoritas federal mengatakan mereka baru bisa membuat penghitungan yang tepat tentang kehancuran pada Kamis (21/5) pagi.

"Kami menghadapi kerusakan dan kehancuran yang lebih besar daripada covid-19," kata Banerjee, merujuk pada penyakit yang disebabkan oleh virus covid-19, yang sejauh ini telah menewaskan 250 orang di negara bagian itu.

Di ibu kota Bengal Barat, Kolkata, angin kencang membalikkan mobil dan menumbangkan pohon dan tiang listrik. Akibatnya masyarakat di sebagian dari kota itu hidup di tengah kegelapan.

Sementara di negara tetangga Bangladesh, sedikitnya empat orang tewas, kata para pejabat. Pasokan listrik terputus di beberapa distrik.

Pihak berwenang di sana telah memindahkan sekitar 2,4 juta orang ke lebih dari 15.000 tempat perlindungan badai minggu ini.

Gelombang air meluap melalui tanggul yang mengelilingi sebuah pulau di distrik Noakhali, Bangladesh. Gelombang tersebut menghancurkan lebih dari 500 rumah, kata pejabat setempat Rezaul Karim.

"Kita bisa menghindari jatuhnya korban karena orang-orang telah dipindahkan ke pusat-pusat penampungan topan sebelumnya," kata Karim.

Wilayah dataran rendah Bangladesh, tempat tinggal 30 juta orang, dan timur India memang kerap dihantam oleh angin topan yang telah merenggut nyawa ratusan ribu orang dalam beberapa dekade terakhir.

Negara Bagian Odisha di India timur dilanda topan super yang menewaskan hampir 10.000 orang pada 1999. Ini terjadi delapan tahun setelah topan, tornado, dan banjir menewaskan 139.000 di Bangladesh. Pada 1970, Topan Bhola menewaskan setengah juta orang.

Saat frekuensi dan intensitas badai telah meningkat, korban jiwa dikabarkan menurun. Ini bisa terjadi karena evakuasi yang lebih cepat, teknologi yang lebih baik, dan lebih banyak tempat perlindungan. (France 24/OL-14)

 

BERITA TERKAIT