20 May 2020, 23:12 WIB

Dubes RI Berbagi Cerita Lockdown di Argentina ke Mahasiswa


Syarief Oebaidillah | Internasional

AMERIKA Selatan turut menjadi salah satu kawasan yang terdampak cukup parah dalam pandemi covid-19. Hal itu membuat sejumlah negara di kawasan yang juga disebut Amerika Latin itu memberlakukan penguncian wilayah (lockkdown).

Salah satunya ialah Argentina. Duta Besar Republik Indonesia untuk Argentina, Uruguay, dan Paraguay Niniek Kun Naryati mengatakan lockdown membuat denyut nadi di ibukota Argentina Buenos Aires yang dikenal sebaga Parisnya Amerika Latin melemah.

"Sebelum covid-19 mewabah, Buenos Aires adalah kota yang sangat ekspresif. Warganya selalu berkegiatan di luar, restoran dan cafe selalu penuh dengan hiburan para penari tango dan tradisi mirenda atau minum kopi sambil makan kue, ada pula kebiasaan barbeque dan saat akhir pekan taman-taman penuh dengan orang-orang yang berolahraga," kata Niniek dalam Kuliah Ramadhan (Kurma) yang diselenggarakan Universitas Budi Luhur.

Fase lockdown di Buenos Aires dimulai padas 20 Maret dan kini sudah diperpanjang hingga 4 kali sebagai bagian dari upaya Negeri Tango memutus mata rantai penularan covid-19.

"Ya, kendati ada law enforcement yang kuat, pelanggaran tetap terjadi juga. Ada sekitar 6 juta orang diberi surat peringatan dan sebanyak 800 orang yang dibui 6 bulan hingga 2 tahun. Jadi bukan sesuatu yang langsung diterima dengan senang hati," ungkap Niniek.

Baca juga : 2 Juni, Changi Terbuka untuk Transit Wisatawan

Dampak dari lockdown ini juga membuat sektor-sektor ekonomi sangat terpukul hingga mengalami krisis ekonomi yang sangat berat, memiliki hutang yang cukup besar di Dana Moneter Internasional sekitar 56 miliiar dollar AS.

Meski demikian, kebijakan lockdown sukses menurunkan jumlah kasus positif covid-19 di Argentina. Data terakhir tercatat hingga Mei 2020 mencapai sekitar 6.000 kasus. Kasus baru positif covid-19 pun perlahan mulai melambat..

Interaksi sosial selama lockdown juga ikut berubah, teknologi menjadi jembatan untuk saling terhubung dari rumah. Masyarakat diwajibkan menggunakan aplikasi layanan pesan makanan secara online. Metode belajar juga beralih menggunakan online.

Kesuksesan Argentina dalam menghadapi pandemi covid-19 tak semata-mata karena ada sanksi pidana terhadap pelanggar kebijakan lockdown, namun kuncinya terletak pada kepedulian masyarakat.

“Yang patut dicontoh disini kendati ada ancaman pidana tetapi kesadaran mereka terhadap kewajibannya untuk melindungi orang lain itu sangat tinggi. Perlu kita acungi jempol. Diantaranya, setiap jam 9 malam selalu ada acara pukul-pukul panci sebagai apresiasi mereka terhadap tenaga medis di seluruh apartemen, " kata Niniek

"Denyut nadi negeri tango memang terkontraksi tetapi yakinlah bahwa pasti bisa kembali lagi ke situasi yang baru walaupun memerlukan perubahan dari kita," pungkasnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT