20 May 2020, 18:13 WIB

Sinergi Guru dan Orang Tua Tentukan Keberhasilan Belajar Daring


Ihfa Firdausya | Humaniora

PANDEMI covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap dunia pendidikan. Ditutupnya sekolah membuat pembelajaran harus dilakukan secara daring yang membuat intensitas pertemuan murid dan guru berkurang

Metode pembelajaran daring menuntut peran vital wali murid. Orang tua siswa harus bisa menjadi pendamping dan jembatan antara guru dan murid selama proses pembelajaran.

Hal tersebut diungkapkan Psikolog Jovita Ferliana dalam diskusi daring tentang sinergi guru, orang tua, dan murid dalam keberhasilan sekolah virtual selama pandemi yang diadakan Sampoerna Academy, Rabu (20/5).

Menurut Jovita, orang tua perlu mengenal gaya belajar anak agar dapat membantunya memahami materi yang dipelajari. Dia mencontohkan tipe anak dalam belajar seperti visual, auditory, membaca, dan kinestetik.

"Di sinilah kolaborasi antara guru, orang tua, dan anak sangatlah penting. Kita bisa melihat dari sudut pandang guru selama ini anaknya tipe yang mana, itu bisa kita satukan dengan hasil observasi kita di rumah," jelasnya.

Baca juga : 22 Mei Bukan Cuti Bersama ASN,BUMN Tetap Masuk

School Director of Sampoerna Academy Mustafa Guvercin mengamini sinergi guru, orang tua, dan murid penting dalam keberhasilan pendidikan anak. Terlebih, kondisi pandemi yang mengharuskan anak belajar dari rumah membuat orang tua semakin sadar akan pentingnya mendampingi anak belajar.

"Sampoerna Academy melihat bahwa setiap individu adalah pribadi yang unik. Itulah kenapa setiap anak memiliki gaya belajar yang bisa jadi berbeda-beda," katanya dalam kesempatan yang sama.

Hal itu, lanjut Mustafa, menjadi keunggulan masing-masing anak yang perlu diakomodasi oleh pihak sekolah atas dukungan orang tua. Dia menyebut hasil berbagai penelitian menunjukkan adanya kecendrungan positif apabila orang tua terlibat secara penuh dalam proses pendidikan anak untuk bisa mendapatkan performa optimal di sekolah.

"Di Sampoerna Academy guru, orang tua, dan siswa diibaratkan tiga kaki kursi. Apabila ada satu kaki yang tidak support maka kursi ini tidak mungkin berfungsi secara optimal sebagai tempat untuk duduk," tuturnya.

Dalam menjalankan sekolah virtual, Sampoerna Academy telah mempersiapkan mulai dari penggunaan software, struktur serta teknisnya. Kemudian, kata Mustafa, Sampoerna Academy juga mengirimkan informasi atau handout pada semua orang tua untuk bisa melakukan sosialisasi terkait program virtual schooling tersebut.

"Jadi dua arah, guru siap, orang tua siap," katanya.

"Untuk anak-anak yang usianya relatif lebih muda, ada bulletin mingguan yang disiapkan supaya mereka tahu dalam satu pekan apa yang menjadi target untuk dikerjakan. Untuk grade lain ada tugas baik harian maupun mingguan yang sudah terjadwal di Google Classroom-nya," jelasnya.

Dalam hal ini, orang tua bisa mengakses dan memantau sejauh mana perkembangan anak dengan bersekolah secara virtual di Sampoerna Academy.

Mustafa menjelaskan, Sampoerna Academy sejak awal mempelopori metode STEAM sebagai konsep pembelajaran. Ia mencakup Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics. Konsep tersebut beranggapan bahwa setiap individu adalah pribadi yang unik karenanya setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.

Jovita menunjukkan penelitian yang dimuat dalam sebuah jurnal pendidikan anak usia dini, Jurnal Obsesi, oleh Wahyuningsih dkk. pada 2020. Penelitian tentang efek metode STEAM pada kreatifitas anak ini menunjukkan bahwa metode STEAM dapat meningkatkan kreativitas anak.

"Kreativitas yang tinggi ditandai dengan keterampilan berpikir lancar, keterampilan berpikir yang fleksibel, keterampilan berpikir yang rinci. Penerapan metode STEAM dalam pelaksanaan pembelajaran dapat meningkatkan kreativitas anak ditandai dengan anak mampu memecahkan masalah dan mampu berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya," jelasnya.

Ibu dan Selebritis Gisella Anastasia mengakui metode tersebut bagus untuk mengembangkan kreativitas anak.

Baca juga : Traffic Internet Naik, Operator Diminta Cek Kualitas Jaringan

"Ini tuh bener-bener anaknya dikulik apa yang dia suka sesuai dengan minatnya. Terus diajak untuk berinteraksi sama apa yang dipelajari. Jadi anak lebih fokus, lebih engage, eksplornya lebih banyak," kata ibu dari Gempita yang juga sedang mengenyam pendidikan di Sampoerna Academy.

"Misalnya, mereka belajar tentang daur ulang. Udah belajar segala macam, terakhir tugasnya bikin mainan dari daur ulang itu. Jadi lucu kan, buat mereka seru. Itu mainan lho yang dihasilkan tapi dari hasil-hasil yang mereka pelajari, apa saja bahannya," imbuhnya.

Gisel juga menyadari orang tua harus terlibat dalam proses pendidikan anak. Terlebih, katanya, di masa pandemi banyak orang tua yang semakin sadar akan hal tersebut.

"Banyak orang tua yang mungkin tidak menyadari kalau sebenarnya orang tua mesti ikutan dalam proses belajar mengajar anak, yang baru sadar, kayak baru ketampar, gara-gara pandemi ini," katanya.

"Kan anak di sekolah berapa jam, pulang tetap sama kita. Di situ proses belajar mengajarnya tetap ada. Dan mesti kompakan (guru dan orang tua) cara ngajarnya gimana. Akan membingungkan buat si anak kalau di sekolah dia dididik dengan cara A lalu di rumah dengan cara lain," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT