20 May 2020, 17:50 WIB

Erick Thohir: Keringanan Tarif Listrik Bakal Diperpanjang


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Ekonomi

MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan keringanan tarif listrik yang dilakukan PT. Perusahaan Listrik Negara Persero (PLN) kemungkinan diperpanjang oleh pemerintah mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir.

"Nanti mungkin pemerintah yang langsung memutuskan, bisa jadi diperpanjang," ungkap Erick Thohir dalam diskusi online, Rabu (20/5). 

Baca juga: Posko THR Kemenaker :Ratusan Perusahaan tak Sanggup Bayar THR

Ia mengatakan PLN juga akan memaklumi karena hal ini sangat penting dilakukan disaat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pendemi Covid-19 masih bergulir.

Sebelumnya, pemerintah telah melakukan pembebasan biaya tarif listrik bagi konsumen rumah tangga 450 Volt Ampere (VA) dan pemberian keringanan tagihan 50% kepada konsumen rumah tangga bersubsidi 900 VA untuk 3 bulan dimulai pada April 2020.

Erick mengatakan, langkah untuk meringankan beban tarif listrik ini merupakan salah satu aksi strategis BUMN sebagaimana pihaknya menjadi mesin dan lokomotif pembangunan pascapandemi Covid-19.

"Pandemi ini bukan berarti membuat kita pasrah. Pandemi harus menjadi ajang di BUMN untuk bisa mengevaluasi, mereformasi, memperbaiki, serta mentranformasi apa yang akan kita lakukan ke depannya," kata Erick.

Selain keringanan tarif listrik, ia menyebut intensif dan bantuan sosial telah diberikan melalui Himbara dengan restrukturasi kredit terhadap 830 ribu dollar sebesar Rp120,9 triliun, yang mana Rp87,3 triliun diberikan kepada UMKM. Ada pula bantuan sosial tunai (BLT) kepada 9 juta KK dan BLT Dana Desa.

Pihaknya juga selalu menjaga ketersediaan dan kestabilan stok dan harga makanan pokok sepert beras, daging, ayam, ikan dan lainnya. Dalam hal penanganan kesehatan, Erick mengungkapkan, BUMN Farmasi melakukan terobosan-terobosan. 

"Kita berusaha melakukan terobosan, seperti peningkatan produksi dan pengadaan obat, memproduksi ventilator lokal, mengembangkan aplikasi pelindung diri untuk melacak historis kontak, hingga memproduksi vaksin dan mengembangkan terapi Convolescent Plasma," kata Erick.

Terakhir, melakukan restrukturisasi BUMN dengan mengurai capex dan opex bumn yang tidak perlu. 

"Kita juga merestrukturisasi hutang. Kemarin kita mencapai US$ 3,6 miliar," pungkasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT