20 May 2020, 16:10 WIB

Peringati Tragedi Tiananmen, Warga Hong Kong Nyalakan Lilin


mediaindonesia.com | Internasional

AKIBAT pandemi covid-19, masyarakat Hong Kong memeringati kematian demonstran prodemokrasi yang terbunuh di Lapangan Tiananmen Beijing pada 1989, dengan menyalakan lilin di seluruh kota.

Peringatan tragedi Tiannamen biasanya dirayakan dengan aksi massal di Hong Kong. Peringatan peristiwa penumpasan oleh penguasa komunis Tiongkok pada tahun ini akan sangat sensitif.

Tepatnya setelah protes massa antipemerintah yang sering diwarnai kerusuhan dan kekerasan di kota semi-otonom Hong Kong sejak tahun lalu. Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu warga Hong Kong berpartisipasi dalam aksi nyala lilin di pusat kota untuk memperingati tragedi penumpasan terbesar.

Baca juga: Pemerintah Tiongkok Sensor Kata Tiananmen dari Internet

Otoritas Hong Kong menyatakan batas pertemuan kelompok tidak lebih dari delapan orang akan diperpanjang. Setidaknya sampai 4 Juni mendatang.

Aliansi Hong Kong dalam Mendukung Gerakan Demokratis Patriotik China menilai motif perpanjangan itu adalah "penindasan politik." Polisi masih harus menanggapi permohonan agar acara tahunan itu diadakan di Taman Victoria.

"Kita harus punya rencana B. Alih-alih di satu tempat, kita akan melakukannya di mana-mana. Masih dengan cahaya lilin yang kuat untuk mengutuk pembantaian dan berkabung bagi mereka yang meninggal pada 1989," pungkas ketua aliansi, Lee Cheuk-yan.

Jumlah korban tewas akibat tragedi penumpasan mencapai 300 orang. Sebagian besar dari mereka adalah tentara, dengan 23 pelajar dikonfirmasi tewas.

Baca juga: Pemerintah Hong Kong akan Longgarkan Pembatasan Sosial

Sampai saat ini, Tiongkok tidak pernah memberikan laporan lengkap terkait peristiwa berdarah tersebut. Namun, sejumlah kelompok hak asasi manusia dan saksi mata meyakini jumlah korban tewas bisa mencapai ribuan.

Lee menyebut peringatan tragedi Tiananmen mewakili "tes litmus (kertas warna) untuk satu negara, dua sistem". Perjanjian yang mengatur penyerahan Hong Kong dari Inggris ke Tiongkok pada 1997, yang memberikan kebebasan khusus.

Menteri Kesehatan Hong Kong, Sophia Chan, dan Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, menegaskan berbagai langkah kesehatan yang diambil pemerintah tidak mengacu pertimbangan politik. Sejauh ini, kasus covid-19 di Hong Kong lebih dari 1.000 orang.(Ant/OL-11)

 

BERITA TERKAIT