20 May 2020, 06:10 WIB

Silaturahim Lintas Primordial


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

SILATURAHIM tidak dipilah dan dibedakan oleh atributatribut primordial manusia, seperti agama, ras, etnik, suku bangsa, negara, warna kulit, jenis kelamin, dan bahasa. Alquran menegaskan, ‘Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak cucu Adam’ (QS Al-Isra’/17: 70).

Tuhan tidak menggunakan redaksi ’Allah memuliakan orang-orang Islam’ (wa laqad karramna al-muslimun). Ini artinya siapa pun sebagai anak cucu Adam wajib dihormati sebagai manusia. Alquran juga menggagas konsep ukhuwah imaniah, persaudaraan orang-orang yang berkeimanan.

Alquran mengatakan, ‘Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah saudaramu’ (QS Al-Hujurat/49: 10). Tuhan tidak mengatakan ‘sesungguhnya orang-orang Islam itu bersaudara’ (innamal muslimin ikhwah). Ini artinya pengakuan terhadap orang-orang yang beriman.

Soal keimanannya benar atau salah, itu persoalan lain dan lebih merupakan urusan Allah SWT. Alquran menegaskan, ‘Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu’ (QS Al-Hujurat/49: 13).

Sehubungan dengan ini, menarik untuk dihayati kedalaman dan keluasan wawasan tokoh-tokoh NU yang pernah menggagas sinergi tiga konsep ukhuwah yang hidup di dalam wadah NKRI.

Ketiganya ialah persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan keislaman (ukhuwah islamiah). Tidak boleh atas nama salah satu konsep ukhuwah digunakan untuk merusak tatanan ukhuwah yang sudah mapan.

Allah SWT dengan tegas mengatakan, ‘Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim’(QS Al-Mumtahinah/60:7-8).

Nabi juga pernah menegaskan, “Barang siapa yang menzalimi orang-orang yang menjalin perjanjian damai (mu’ahhad) atau melecehkan mereka, atau membebaninya sesuatu di luar kesanggupannya, atau mengambil harta nya tanpa persetujuannya, saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian.” (HR Bukhari-Muslim).

Ada hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang menceritakan Nabi memerintahkan untuk mensalatgaibkan sahabat Nabi, yaitu Raja Najasy ketika sampai kabar kematian kepadanya. Sahabat pun melakukan salat gaib dengan empat kali takbir di masjid dan mendoakannya (HR Bukhari No. 3880-3881).

Riwayat dari jalur Imam Mus lim juga hampir sama redaksinya. Jika terjadi silaturahim internal sesama makhluk mikrokosmos bisa terwujud, akan memudahkan terjalinnya ukhuwah komprehensif dengan makhluk makrokosmos.

Silaturahim antara kedua kosmos ini diharapkan melahirkan kedamaian komperhensif dan abadi. Semoga Lebaran kali ini membawa kabahagiaan dan kedamaian untuk kita semua.

Silaturahim jelas bukan hanya untuk sesama umat Islam melainkan lintas agama bahkan lintas primordial. Silaturahim dalam arti menjalin tali kasih dengan siapa pun sesama makhluk Tuhan. Allah SWT mencontohkan berdialog dengan iblis dan memenuhi permintaannya untuk dipanjangkan hidupnya sepanjang hidup umat manusia (QS Shad/38:75 85).

Ketika Rabi’ah Adawiyah di tanya apakah engkau membenci iblis? Ia menjawab, ‘’Cintaku sudah memenuhi semua ruang dalam tubuhku
sehingga tidak ada lagi tempat untuk membenci kepada siapa pun.” Pengakuan iblis, semua orang akan takluk di hadapanku, “Kecuali hamba-Mu yang mukhlashin (Illa ‘ibaduk min hum al mukhlashin).”

BERITA TERKAIT