20 May 2020, 04:30 WIB

Herd Immunity bukan Solusi Tepat


Aiw/Che/Hld/H-2 | Humaniora

KONSEP herd immunity atau kekebalan kelompok dalam menghadapi pandemi covid-19 dinilai bukan langkah tepat.

Hal itu ditegaskan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla dan dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi RSCM Sukamto Koesnoe dalam kesempatan terpisah, kemarin.

“Bisa saja ini dilakukan, cuma korbannya bakal banyak,” sebut Kalla dalam diskusi Segitiga Virus Corona, kemarin.

Kalla memberikan contoh penerapan herd immunity di Swedia yang akhirnya menjadi bumerang. Swedia tidak melakukan lockdown dan tingkat kematian di negara itu lima kali lipat angka di negara sekitar mereka akibat mencoba herd immunity.

Menurutnya, mengubah perilaku hidup bersih dan sehat seperti menggunakan masker dan rajin mencuci tangan masih solusi terbaik.

Sukamto menegaskan herd immunity tidak efektif jika belum ada vaksin yang terbukti efektif menimbulkan kekebalan atau mencegah orang terjangkit infeksi covid-19.

Kalau konsep yang dipakai ialah ‘dibiarkan’ kekebalan alami yang didapat dari alam, imbuhnya, kita sebenarnya sedang bertaruh. Kita berharap orang yang kuat tidak akan sakit karena kemampuan tubuh membentuk antibodi atau imunitas naik, dan akan muncul antibodi karena terinfeksi. “Sementara yang lemah akan ‘dibiarkan’ jatuh sakit. Padahal, kita juga belum punya bukti bahwa yang pernah sakit atau terinfeksi tidak akan pernah terinfeksi lagi,” paparnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan konsep herd immunity dalam menghadapi pandemi covid-19 karena berbahaya.

Terkait dengan kabar rencana kembali berkantornya karyawan BUMN pada 25 Mei 2020, Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan itu bukan jadwal masuk kembali ke kantor. “Tanggal pasti akan kembali berkantornya mayoritas karyawan BUMN menunggu keputusan umum pemerintah terkait dengan pandemi covid-19,” ujar Erick. (Aiw/Che/Hld/H-2)

BERITA TERKAIT