19 May 2020, 17:15 WIB

Laba Bersih Maybank Indonesia Naik 29,7% pada Kuartal I 2020


Wisnu Arto Subari | Ekonomi


PANDEMI covid-19 yang melanda Tanah Air, sepertinya tidak terlalu berimbas pada industri perbankan. Hal bisa dilihat dari pencapaian PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia atau Bank) yang mengumumkan kenaikan laba bersih setelah pajak dan kepentingan nonpengendali (PATAMI) sebesar 29,7% menjadi Rp538,2 miliar pada kuartal I yang berakhir 31 Maret.

Pendapatan itu didukung peningkatan pendapatan nonbunga (fee based income) dan pengelolaan biaya strategis secara berkelanjutan (sustained strategic cost management).

Baca juga: Menakar Arah Konsolidasi Perbankan

Bank mencatat pertumbuhan pendapatan nonbunga (fee based income) sebesar 16,0% menjadi Rp597,6 miliar pada Maret dibandingkan dengan Rp515,0 miliar pada Maret tahun lalu, terutama didukung oleh peningkatan pendapatan fee Global Market, bancassurance, investasi, dan fee transaksi jaringan elektronik (e-channel).

Maybank Indonesia juga berhasil memperkuat profil pendanaan seperti tercermin dari peningkatan rasio CASA dari 31,7% pada Maret tahun lalu menjadi 37,4% pada Maret 2020, di mana tabungan meningkat sebesar 18,1%.  Peningkatan CASA juga merupakan hasil dari strategi Bank yang diterapkan sejak semester kedua 2019  untuk mengurangi surplus likuiditas berbiaya tinggi  yang dimiliki Bank untuk memitigasi risiko yang tak terduga selama paruh pertama 2019.  

Platform digital banking, M2U yang memberikan layanan pembukaan rekening dengan mudah dan cepat juga memberikan kontribusi pada peningkatan rasio CASA.  Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to Deposit (LDR-Bank saja) berada pada tingkat yang sehat sebesar 89,7% sementara Rasio Cakupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR-Bank saja) berada pada posisi 154,2% per Maret 2020, jauh melampaui kewajiban minimum sebesar 100%.

Total kredit turun sebesar 9,5% menjadi Rp122,9 triliun sejalan dengan strategi Bank untuk mengambil langkah konservatif dan menyesuaikan dengan postur serta risk appetite Bank dalam menjaga portofolionya terutama dalam situasi pandemi seperti saat ini.  Per Maret 2020, kredit Perbankan Global turun 1,7% menjadi Rp35,3 triliun, sementara kredit Community Financial Services (CFS) non-ritel turun 17,5% menjadi Rp46,6 triliun dan kredit CFS Ritel turun 5,6% menjadi Rp41,1 triliun.  

Marjin bunga bersih (NIM) pada Maret 2020 sebesar 4,96% atau lebih tinggi 14 basis point dibandingkan dengan 4,81% pada Maret 2019.  Bank akan terus menjaga kedisiplinan dalam penentuan bunga kredit dan pengelolaan pendanaan secara aktif untuk dapat memitigasi tekanan pada marjin dengan lebih baik.

Biaya overhead tetap  dikelola dengan efektif dan hanya meningkat sebesar 1,2%  menjadi Rp1,6 triliun pada Maret 2020 sebagai hasil dari inisiatif pengelolaan biaya yang baik di seluruh lini bisnis dan unit pendukung.
Tingkat non-performing loan (NPL) sebesar 3,6% (gross) dan 2,2% (net) pada Maret 2020 dibandingkan dengan 2,9% (gross) dan 1,7% (net) pada Maret 2019 Hal ini disebabkan oleh menurunnya total kredit pada Maret 2020.

Rasio Gross Impaired Loan sebesar 5,04% pada Maret 2020 dibandingkan 3,29% pada Maret 2019.  Meningkatnya rasio impaired loan disebabkan oleh karena Bank menerapkan standar akuntansi baru PSAK 71 atau IFRS 9 secara penuh efektif mulai Januari 2020.  Bank terus menempuh langkah proaktif untuk membantu nasabah menghadapi tantangan dan mempertahankan postur risiko yang sesuai dalam menjaga kualitas aset.

Posisi modal Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 20,6% pada Maret 2020 dibandingkan dengan 18,7% pada periode yang sama tahun lalu dan total modal Rp26,2 triliun pada Maret 2020 dibandingkan Rp25.9 triliun pada Maret 2019.

Sementara itu total pembiayaan Perbankan Syariah Bank per Maret 2020 mencapai Rp24,4 triliun dibandingkan dengan Rp24,7 triliun tahun lalu. Namun dalam tiga bulan pertama Perbankan Syariah kembali tumbuh dan mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar Rp398,0 miliar mencapai total Rp24,4 triliun. Kafalah Perbankan Syariah mulai menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan; jika ditambah portofolio Kafalah, total pembiayaan mencapai Rp25,8 triliun pada Maret 2020.  Total aset Perbankan Syariah per Maret 2020 sebesar Rp31,8 triliun atau 2,6% lebih rendah dibandingkan tahun lalu.  

Adapun total simpanan nasabah tumbuh sebesar 2,4% atau membukukan peningkatan sebesar Rp599,7 miliar pada tiga bulan pertama 2020.  Perbankan Syariah secara berkesinambungan telah memfokuskan pada aktivitas untuk mendapatkan pendanaan yang efisien, dan hal ini  telah berhasil mengurangi simpanan berbiaya tinggi serta memperbaiki laba sebelum pajak menjadi sebesar Rp109,1 miliar dan peningkatan Return on Asset (ROA) menjadi 2,08% pada Maret 2020 dibandingkan 1,36% pada Maret 2019.

Bank telah mengambil peran aktif untuk mendukung Pemerintah dalam memerangi wabah virus covid-19 dengan memberikan donasi Alat Pelindung Diri (APD) ke rumah sakit di seluruh Indonesia dan melakukan program penggalangan donasi massal (crowd sourcing) melalui apliasi mobile banking M2U untuk membantu mereka yang terkena dampak wabah virus.  

“Sejalan dengan perbaikan dan perubahan yang kami lakukan sejak tahun lalu, memang ekspektasi kami dapat mencatat kinerja yang positif di awal tahun dengan kenaikan PATAMI sebesar 29,7% dalam tiga bulan pertama 2020.  Pendapatan non bunga (fee based income) makin menunjukkan peningkatan dan menjadi sumber pendapatan utama kami di saat Bank mengambil langkah selektif dalam menumbuhkan portofolio di tengah kondisi pasar saat ini," kata
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria.

"Pandemi global ini akan berdampak pada kinerja kami dalam tahun ini dan kami akan tetap harus menjaga kualitas aset. Sementara itu, kami akan terus menjaring peluang bisnis di bidang perbankan digital di mana kami dapat memberikan solusi keuangan yang inovatif dengan meningkatkan customers’ experience kepada para nasabah, di samping memberikan dukungan untuk menjaga kelangsungan bisnis mereka,” imbuhnya.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia dan Group President & CEO Maybank, Datuk Abdul Farid Alias mengatakan, sejumlah langkah transformasi telah mereka lakukan dalam beberapa tahun terakhir  telah menunjukkan hasil nyata dengan pertumbuhan yang kuat. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT