19 May 2020, 13:45 WIB

Rumah Sakit Diimbau Jaga Kualitas Alat Diagnostik Covid-19


Bayu Anggoro | Nusantara

ALAT diagnostik covid-19 dan alat pelindung diri (APD) yang dipakai tenaga medis yang menangani covid-19 harus dipastikan kualitasnya. Hal ini sangat penting agar tidak ada lagi dokter maupun perawat yang terpapar virus tersebut dari pasien yang dirawat.

Kebutuhan akan alat diagnostik yang benar-benar memberikan rasa aman tidak bisa ditawar lagi mengingat saat ini di berbagai negara telah banyak tenaga medis yang terpapar saat menangani pasien covid-19. Hal ini menginspirasi peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) untuk mengembangkan instalasi multiguna yang salah satunya untuk mendiagnosa infeksi covid-19.

Baca juga: Jepang Segera Setujui Alat Uji Antigen Covid-19 Pertamanya

Ketua Tim Peneliti FK Unisba, Maya Tejasari, mengatakan, penciptaan instalator ini terinspirasi dari banyaknya pasien yang berobat yang tidak memahami atau tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi virus covid-19. Jika dibiarkan, ini berisiko menjadi sumber transmisi bagi orang lain.

"Orang tanpa gejala (OTG) menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan untuk memastikan keamanan saat memeriksa pasien," katanya di Bandung, Selasa (19/5). Dia meyakini, risiko penularan dari pasien kepada tenaga  kesehatan saat pemeriksaan sangat berpeluang terjadi sehingga diperlukan standard perlindungan yang memadai.

"Pada saat ini prosedur standar pemeriksaan semua pasien di rumah sakit mewajibkan penggunaan APD yang lengkap," katanya. Namun, sampai saat ini
APD yang tersedia di rumah sakit hanya sekali pakai sehingga harus diganti setiap petugas berganti pasien atau keluar dari ruang pemeriksaan.

"Prosedur ini memerlukan persiapan yang cukup lama serta memberikan rasa kurang nyaman bagi petugas kesehatan," katanya. Selain itu, kondisi ini juga berdampak pada tingginya jumlah APD yang harus disediakan.

Penyediaan APD yang aman, nyaman, dan dapat digunakan dalam jangka waktu panjang sangat diperlukan untuk terlaksananya prosedur penegakan diagnostik yang optimal. Oleh karena itu, pihaknya mengembangkan instalasi yang diberi nama KOPID3@ase (dibaca kopidtriase).

Alat ini merupakan instalasi multiguna yang memisahkan zona pasien dengan tenaga kesehatan secara kedap sempurna. Temuannya ini juga dilengkapi sistem tekanan negatif yang telah terkalibrasi sehingga dapat mencegah penularan virus korona.

"Agar dapat mencegah transmisi termasuk covid dari pasien ke tenaga kesehatan," katanya di Bandung. Dia memastikan instalasi ini didesain secara ergonomis dengan memenuhi standard keselamatan biologi sehingga tenaga medis cukup menggunakan alat pelindung diri (APD) sederhana saat menangani pasien.

Terlebih, instalasi ini juga dilengkapi alat pendukung untuk mendiagnostik seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, rapid tes, hingga pengambilan spesimen SWAB dalam satu lokasi.

"Instalasi ini tersimpan di antara zona merah dan hijau (di rumah sakit saat menangani pasien), sehingga meminimalisir risiko transmisi dari pasien ke tenaga medis atau yang lain," katanya.

Selain praktis karena instalasi ini mampu melakukan banyak diagnostik dalam satu tempat, menurutnya alat inipun memiliki masa pakai yang panjang karena terbuat dari material yang memenuhi standard kesehatan. "Instalasi ini merupakan prototipe kedua dari serial Kopid protection yang dikembangkan sebelumnya," kata dia. (BY/A-1)

BERITA TERKAIT