19 May 2020, 19:55 WIB

Ditangkap Polisi, Warga NTB Mengaku Khilaf Tulis Polisi Dajjal


Henri Siagian | Nusantara

POLDA Nusa Tenggara Barat menangkap SP, Warga Kabupaten Lombok Tengah, karena menyebut 'Polisi Dajjal' dalam kolom komentar Facebook terkait imbauan salat Id di rumah saja. Pelaku mengaku khilaf.

"Saya waktu itu baru bangun, masih posisi setengah sadar, pas buka telepon seluler (ponsel), muncul unggahan berita kapolda sama danrem minta warga buat salat Id di rumah saja. Karena emosi, langsung saya tulis komentar 'Polisi Dajjal'," kata SP kepada wartawan, Selasa (19/5).

Dia mengaku memberi komentar setelah membaca sekilas judul unggahan berita tanpa melihat isinya.

Baca juga: Pengacara: Said Didu Dicecar 50 Lebih Pertanyaan

Tidak lama setelah mengunggah komentar, SP mendapatkan teguran dari sejumlah rekan Facebook. Menanggapi hal tersebut, SP kemudian menghapus komentar. "Pas ditegur, langsung saya hapus komentar saya itu," ucapnya.

Kini SP yang kasusnya masuk tahap penyidikan mengakui kesalahannya dan menyatakan tidak akan lagi mengulangi perbuatan serupa.

Baca juga: Denny Siregar: Pengacara Said Didu, Pengacara yang Kalah

Adapun Polda NTB menilai yang dilakukan pelaku sudah termasuk tindak pidana. "Jadi apa yang ditulis pelaku, sudah masuk dalam pidana hate speech (ujaran kebencian)," kata Kabid Humas Polda NTB Kombes Artanto.

Tim Cyber Crime Polda NTB menjemput SP di rumahnya pada Senin (18/5) malam. Petugas kepolisian turut menyita ponsel milik SP dan akun Facebook pribadinya.

Kini SP yang telah menjalani pemeriksaan penyidik Cyber Crime di Mapolda NTB, terancam sanksi pidana Pasal 28 Ayat 2 Juncto Pasal 45A Ayat 2 Undang-undang Nomor 19/2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Sesuai aturan pidananya, pelaku terancam hukuman enam tahun penjara dengan denda Rp1 miliar," ujarnya.

Akan tetapi, kepolisian tidak menahan SP. SP dikenakan wajib lapor. "Jadi sekarang dia harus datang laporan tiga kali dalam sepekan. Tidak ditahan, tapi kasusnya masih terus didalami," ucap Artanto. (Ant/X-15)

BERITA TERKAIT