19 May 2020, 16:33 WIB

Ketidakpastian Global Mereda, Rupiah Perlahan Menguat


Despian Nurhidayat | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) mencatat penguatan nilai tukar rupiah seiring dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan penguatan ini juga dipengaruhi terjaganya kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

"Setelah menguat pada April, rupiah kembali mengalami apresiasi pada Mei. Sampai 18 Mei, rupiah menguat 5,1% secara rerata dan 0,17% secara point to point dibandingkan dengan level akhir April," ungkap Perry dalam telekonferensi, Selasa (19/5).

Baca juga: BI Tetap Pertahankan Suku Bunga Acuan

Lebih lanjut, dia mengatakan nilai tukar rupiah masih mengalami depresiasi sekitar 6,52% dibandingkan level akhir 2019. Kondisi itu merupakan dampak depresiasi mendalam pada Maret tahun ini. 

Penguatan rupiah didorong aliran modal masuk dan besarnya pasokan valuta asing dari pelaku domestik. Bank Sentral memandang level nilai tukar rupiah secara fundamental tercatat undervalued belakangan ini. Sehingga, berpotensi terus menguat dan mendukung pemulihan ekonomi domestik. 

"Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, BI terus mengoptimalkan operasi moneter guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar. Serta, ketersediaan likuiditas di pasar uang dan pasar valas," imbuh Perry.

Baca juga: Antisipasi Covid-19, BI Keluarkan 5 Kebijakan Penguatan Rupiah

Dia juga memaparkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April meningkat jadi US$ 127,9 miliar. Itu setara pembiayaan 7,8 bulan impor atau 7,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

BI menilai posisi cadangan devisa lebih dari cukup untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Berikut, kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. 

Bank Sentral memperkirakan defisit transaksi berjalan (CAD) tahun ini menurun di bawah 2,0% dari PDB. Proyeksi itu turun dari prediksi sebelumnya, yakni 2,5%-3,0% dari PDB.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT