19 May 2020, 13:32 WIB

Taman dan Daya Magis Penyembuhan


Galih Agus Saputra | Weekend

Adanya taman di dalam rumah sakit rupanya tidak hanya menjadi pemanis dan syarat estetik belaka. Sudah banyak studi yang mengungkapkan bahwa taman punya peran vital terkait proses penyembuhan (healing), termasuk untuk mengatasi masalah stres dan depresi yang dialami pasien selama proses pengobatan.

Sebagaimana dilansir Daily Mail, pada 2013, sebuah lembaga independen, The King's Fund telah menemukan hubungan yang kuat antara ruang hijau, kesehatan fisik, dan mental. Studi lainnya, di Kanada, pada 2012 menjelaskan bahwa setiap 10 persen paparan ruang hijau yang dialami seseorang, dapat diterjemahkan sebagai peningkatan kesehatan, bahkan setara lima tahun lebih muda pada yang bersangkutan.

Kemampuan alam untuk mendukung sistem kekebalan tubuh menjadi kunci. Tim penelitian dari University of East Anglia, pada 2018 lalu juga pernah meninjau 140 studi tentang efek ruang hijau pada kesehatan. Laporan mereka yang diterbitkan melalui jurnal 'Environmental Research', lantas mencantumkan kesimpulan bahwa ruang hijau mempu membantu proses pengobatan berbagai macam penyakit, mulai dari diabetes tipe 2, jantung, kematian dini, tak terkecuali untuk mengatasi kualitas tidur seseorang.

Menariknya, taman di dalam rumah sakit rupanya juga telah menjadi titik balik, penulis sekaligus petualang asal Inggris, Robin Hanbury-Tenison. Pemerhati Masyarakat Adat itu mengaku sangat terbantu dengan adanya taman di dekat ICU, selama enam minggu bertempur melawan komplikasi dan virus korona (covid-19).

"Saya terbangun dari koma yang cukup dalam karena sinar matahari yang menerpa wajah. Saya teringat saat membuka mata dan sejenak berpikir bahwa rupanya, 'Saya telah kembali'," tutur pria berusia 84 tahun itu.

Robin sendiri terpapar covid-19 setelah pulang dari bermain ski. Kala itu ia mengaku menderita batuk kering selama berhari-hari, hingga kemudian dibawa ke Rumah Sakit Derriford, di Plymouth, pada awal Maret. Masuk ke rumah sakit tersebut, baginya ialah suatu keberuntungan karena tempat tersebut ialah salah satu dari sekitar 20 rumah sakit di Inggris yang memiliki taman khusus di ICU.

Taman di Rumah Sakit Derriford pada dasarnya hanya berbentuk halaman kecil. Meski demikian, para staf di dalamnya sangat yakin bahwa ruang terbuka hijau itu memiliki kekuatan restoratif pada pasien. Sang Spesialis Perawatan Intensif, Kate Tantam, yang juga sempat mengorganisir kunjungan Robin ke taman mengaku tahu persis bagaimana proses penyembuhan.

Menurut Kate, dewasa ini kurang lebih ada 60 hingga 80 persen pasien covid-19 di ICU-nya yang mengalami delirium. Meski hanya bersifat sementara, namun dalam keadaan itu pasien mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatian dan menjadi linglung, bahkan mengalami disorientasi dan tidak mampu berpikir secara jernih.

“Akan tetapi, paparan udara segar dan sinar matahari, walau sebentar, tampaknya telah mengingatkan pasien pada sesuatu yang hilang atau terlupakan. Dan entah bagaimana untuk meyakinkan mereka bahwa mereka pasti dapat pulih, saya telah melihat ribuan kasus pemulihan yang luar biasa sepert yang dialamii Robin. Efek dari taman boleh dibilang sangat ajaib," tuturnya.

Maka dari itu pula, katanya, tidak mengherankan jika ia membawa keluar pasien yang sakit dari bangsal secara bergantian. Setiap hari ia menuntun satu demi satu pasien untuk masuk ke ruang terbuka.

Meski prosesnya tergolong rumit, namun hal itu dianggap setimpal untuk mendapatkan suatu kesembuhan. "Untuk sepuluh menit di luar, mungkin bisa memakan waktu hingga dua jam untuk persiapan pasien. Tapi, ketika pasien membaik, mereka mungkin dapat segera dipersatukan kembali dengan hewan peliharaan kesayangannya, keluarga, atau bahkan untuk menikmati bir," imbuh Kate. (M-2) 

 

BERITA TERKAIT