19 May 2020, 08:51 WIB

​​​​​​​PDIP: Pelonggaran PSBB di DKI harus Hati-Hati


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

ANGGOTA DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan Gilbert Simanjutak meminta pemprov untuk berhati-hati dalam rencana pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Ia menceritakan kilas balik kasus flu Spanyol 1918 yang turun selama 2 minggu, lalu masyarakat tanpa kontrol atau PSBB ketat disertai euforia, susah untuk dibatasi kembali pergerakannya. 

Ternyata, jumlah kasus harian kembali ke puncak pertama selama 4 bulan kedepan. Lalu, timbul puncak kedua di bulan kelima lebih 3 kali besarnya dari yang pertama.

"Belajar dari kemungkinan timbulnya puncak baru yang lebih berat ditangani, sebaiknya pelonggaran PSBB setelah Mei, memberikan penurunan lebih lama jumlah kasus harian," jelas Gilbert dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa (19/5).

Baca juga: Matangkan Opsi Pelonggaran PSBB

Selain itu, Gilbert juga menyebut, kebijakan pelonggaran PSBB berbasis data sangat penting. Data penderita adalah didominasi daerah perkotaan, kelompok menengah dan usia 50 tahun ke atas.

"Sebaiknya pelonggaran terbatas dimulai di kalangan bawah yang meliputi ekonomi informal dan pangan. Setelah berjalan 4 minggu tanpa penambahan kasus terkonfirmasi dengan RT PCR, maka ditambah dengan segmen lain," jelas Gilbert.

DKI juga harus mampu lakukan pemeriksaan Reverse transcription polymerase chain reaction (RT- PCR) untuk memeriksa kasus baru di DKI dan sekirnya.

Protokol Covid-19 untuk berbagai moda transportasi, ungkapnya, perlu disusun dan diawasi ketat. Pelajaran dari flu Spanyol tersebut, dibuthkan 4-5 bulan untuk berulangnya wabah yang lebih hebat.

"Dibutuhkan konsistensi dan partisipasi masyarakat secara sadar dan dewasa. Wabah adalah masalah teknis medis atau kesehatan, bukan masalah politik," pungkas Gilbert. (A-2)

BERITA TERKAIT