19 May 2020, 07:41 WIB

Emas Berjangka Terkoreksi US$21,9, Investor Lirik Aset Berisiko


Antara | Ekonomi

HARGA emas berjangka jatuh pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), menghentikan kenaikan selama empat hari beruntun, ketika harapan uji coba vaksin potensial covid-19 mendorong para investor melirik aset-aset berisiko serta mengangkat harga ekuitas dan minyak.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun tajam US$21,9 atau 1,25%, menjadi ditutup pada US$1.734,40 per ounce. Sebelumnya, emas berjangka menikmati keuntungan selama empat hari berturut-turut.

"Alasan mengapa emas agak bergoyang di sekitar perubahan positif dan negatif untuk hari ini adalah karena semua orang berpikir risk-on (mengambil risiko) masuk ke ekuitas - karena pasar di seluruh papan naik tiga persen," kata Michael Matousek, kepala pedagang di Global Investors AS.

Namun, tren "masih terbalik, masih ada banyak alasan untuk membeli emas."

Wall Street melonjak dan harga minyak mencapai tertinggi dua bulan setelah pembuat obat Moderna mengatakan vaksin eksperimentalnya menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam uji coba tahap awal, dengan investor juga mengandalkan lebih banyak stimulus untuk menyelamatkan ekonomi AS dari kemerosotan.

Baca juga: Pelaku Industri Tunggu OJK Tentukan Bank Jangkar

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell, dalam pernyataannya yang disiarkan pada Minggu (17/5), menguraikan kemungkinan kebutuhan untuk tiga hingga enam bulan lagi bantuan keuangan pemerintah bagi perusahaan-perusahaan dan keluarga.

Emas, yang cenderung menguat karena ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, telah meningkat sekitar 14% tahun ini karena bank sentral meluncurkan gelombang penurunan suku bunga dan stimulus lainnya untuk membatasi kerusakan ekonomi akibat pandemi.

Data ekonomi yang diterbitkan minggu lalu menunjukkan penjualan ritel AS dan produksi industri keduanya jatuh pada April, dengan krisis virus korona yang terus-menerus memukul pasar tenaga kerja AS.

Jepang tergelincir ke dalam resesi di kuartal pertama. Pasar juga terus mewaspadai hubungan AS-Tiongkok yang memburuk.

Para analis pasar berpendapat bahwa prospek jangka panjang untuk emas tetap bullish karena investor khawatir atas dampak sejumlah besar stimulus dan kemungkinan langkah-langkah stimulus di masa depan, ketika langkah-langkah ini meningkatkan inflasi, mendorong investor ke emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 39,8 sen atau 2,33%, menjadi ditutup pada US$17,468 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik US$52,2, atau 6,39%, menjadi menetap pada US$869,3 per ounce. (A-2)

BERITA TERKAIT