19 May 2020, 07:10 WIB

Paradigma Berdamai dengan Covid-19


Jamal Wiwoho, Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (MRPTNI), Agus Riewanto Dosen Fakultas Hukum dan Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta | Opini

BELUM lama ini Presiden Joko Widodo dalam video yang diunggah Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden secara resmi menyatakan imbauan kepada masyarakat agar selama belum ditemukan vaksin yang efektif untuk virus covid-19, masyarakat harus hidup berdamai dengan covid-19 dalam waktu ke depan. (Media Indonesia, 8 Mei 2020).

Makna berdamai

Pernyataan Presiden ini menyiratkan pesan agar di tengah ketidakpastian berakhirnya pandemi covid-19, dunia pendidikan di perguruan tinggi tetap harus produktif dan inovatif dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Maka, diperlukan paradigma baru perguruan tinggi dalam beradaptasi secara damai dengan pandemi covid-19 ini.

Harus diakui, salah satu yang terdampak dari pandemi covid-19 ini ialah perguruan tinggi yang merupakan elan vital dalam mempersiapkan pembangunan sumber daya manusia unggul yang akan bersaing secara global. Untuk itulah diperlukan komitmen perguruan tinggi dalam kerangka pencegahan penyebaran covid-19 ini melalui berbagai macam kegiatan akademik di lingkungan civitas academica.

Titik tolak komitmen paradigma baru perguruan tinggi berdamai dengan covid-19 ini adalah hasil penelitian sejumlah akademisi. Antara lain, Neil M Fergusion, dkk (16 Maret 2020) berjudul: Impact of Non-Pharamceutical Interventions (NPIs) to Reduce Covid-19 Mortality and Healthcare Demand, yang melakukan riset terhadap dampak dari nonpharmaceutical interventions (NPIs) atau intervensi nonfarmasi untuk mengurangi penularan covid-19 dalam bentuk isolasi dan karantina di rumah secara sukarela. Dan, membatasi kontak dengan orang dengan cara penutupan sekolah dan universitas.

Hasilnya cukup efektif mencegah penyebaran covid-19.

Paradigma

Maka sejumlah kebijakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang akan diadaptasikan secara damai dengan covid-19 berbasis pembatasan sosial (social distance) dan pembatasan fisik (physical distance), adalah, pertama paradigma pengajaran.

Paradigma pengajaran di perguruan tinggi perlu didesian ulang semua berbasis layanan prima secara dar ing (online). Termasuk, ujian skripsi, tesis dan disertasi, serta wisuda. Mengubah semua kegiatan penunjang pengajaran di kampus ke model kegiatan sistem daring.

Untuk itu diperlukan paradigma baru dalam kebijakan ini ialah kesiapan perangkat teknologi bagi mahasiswa dan dosen yang murah harganya dan terjangkau di seluruh pelosok negeri.

Kemudian, kesiapan dosen dan sistem pendidikan tinggi untuk mengubah mindset dari sistem konvensional ke sistem internet. Sehingga, kendati perkuliahan diubah sistem daring tidak berarti mahasiswa tidak mendapatkan layanan pembelajaran yang prima dan berkualitas sebagaimana dalam perkuliahan konvensional.

Maka, diperlukan standarisasi dalam model pembelajaran daring ini. Terutama, terkait bentuk materi, model pembelajaran, perangkat pembelajaran, pemberian tugas dan standar penilaian.

Jika wabah covid-19 ini dimaknai sebagai bentuk perubahan dunia pendidikan secara global, maka perlu dipikirkan secara sistematis tentang model pembelajaran daring ini agar tak hanya dilakukan di saat darurat. Namun, akan menjadi alternatif utama dalam pembelajaran di kampus masa depan.

Di titik ini perlu juga digalakkan berbagai macam kegiatan daring berupa kolaborasi antarperguruan tinggi nasional dan internasional dalam memperkaya materi bahan ajar. Sekaligus, ditopang dengan berbagai kegiatan seminar dan workshop kolaboratif nasional dan internasional.

Kedua, paradigma riset. Kegiatan penelitian (riset) di perguruan tinggi pada masa pandemi covid-19 ini dapat fungsional sekaligus memiliki makna yang lebih dalam bagi pengembangan peran kampus untuk masyarakat.

Sudah saatnya materi riset difokuskan pada tema-tema covid-19. Mulai dari upaya pencarian teori-teori keilmuan dasar, riset pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, riset penemuan pengobatan (perspektif kedokteran, farmakologi dan psikologi), riset penanggulangan dan dampaknya (perspektif hukum, sosial, politik dan ekonomi). Serta, tak kalah pentingnya adalah riset strategi hidup berdamai dengan covid-19 dalam tatanan baru dari berbagai macam perspektif.

Ketiga, paradigma pengabdian. Pengabdian kepada masyarakat di masa pencegahan pandemi covid- 19 ini dikreasi ulang dalam bentuk yang lebih konkret terhadap peran sivitas academica untuk terlibat secara langsung sebagai relawan pencegahan pandemi covid-19 ini di masyarakat.

Peran insan kampus pada masa pandemi ini, yakni dalam bentuk relawan di masyarakat, dapat dilakukan para dosen dan mahasiswa di berbagai bidang studi, agar mendesain aneka program kesukarelawanan dalam berbagai bentuk dan kegiatan sesuai dengan kompetensi keilmuan dalam program studi yang ditekuni.

Menyusun kegiatan

Peran relawan dari kampus ini memang tidak dimaksudkan serta merta langsung menangani pasien covid-19. Para relawan hanya membantu program-program pemerintah dalam pencegahan pandemi covid- 19 ini dalam bentuk keterlibatannya menyusun aneka kegiatan.

Mulai dari mengkomunikasikan masalah-masalah covid-19 kepada masyarakat secara akurat, pemberian informasi secara sistematis dan menyeluruh. Lalu, mengedukasi kepada masyarakat, melayani call center bantuan darurat, serta menyiapkan diri sebagai tenaga bantuan dalam kondisi darurat sesuai kompetensi setiap mahasiswa.

Tentu saja perguruan tinggi perlu membuka posko-posko darurat covid-19 dengan merekrut relawan mahasiswa yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Dan, terlebih dahulu diberikan pelatihan serta pendampingan, disiapkan alat perlindungan diri (APD) yang sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dan juga, insentif dari Kemendikbud, dan sertifikat pengabdian kepada masyarakat yang dapat digunakan untuk kepentingan konversi perkuliahan dan kuliah kerja nyata (KKN).

BERITA TERKAIT