19 May 2020, 03:15 WIB

Dee Lestari Prihatin Pembajakan Buku


Fathurrozak | Humaniora

PENULIS Dewi Lestari, 44, melihat sebenarnya perkembangan literasi di Indonesia cukup menunjukkan gairah baru. 

Hal itu, kata dia, ditandai dengan keterlibatan Indonesia pada beberapa ajang literasi dunia, seperti Frankfurt Book Fair (FBF) serta London Book Fair (LBF), termasuk bermunculannya penerbit independen ataupun yang memang cukup mapan.

“Saya cukup optimistis walau pekerjaan rumahnya banyak. Ekosistem kultur membaca sampai hal yang sifatnya regulasi seperti pembajakan masih harus ada yang ditangani,” ungkap perempuan yang akrab disapa Dee Lestari tersebut dalam siaran langsung di Instagram bersama Indonesia International Book Fair, kemarin.

Bagi penulis Aroma Karsa ini, masyarakat di Indonesia tidak bisa dipukul rata menyangkut literasi. Ia menganalogikan, misalnya, harga buku yang beredar di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa berbeda. Ekspos terhadap sumber informasi ataupun kualitas pendidikan juga sangat beragam.

Dalam pandangan dia, masyarakat saat ini masih lebih banyak berada di garis survival. “Kalaupun ada situasi seperti sekarang ini, tentu kebutuhan terhadap buku juga melorot ke urutan sekian. Tentu yang diprioritaskan ialah bagaimana bertahan hidup,” ujarnya.

Namun, yang sangat dia prihatinkan ialah pada masa pandemi seperti ini jadi pembenaran untuk menyebarkan link PDF dari buku-buku ilegal. Dengan alasan ini sebagai hiburan gratis saat orang di rumah saja. “Saya rasa edukasi ini tidak benar. Ini pembajakan karena penerbit tidak ada terbitkan buku secara PDF. Menurut saya, PR besarnya harus terus gaungkan untuk memberikan awareness ke masyarakat,” tegas Dee.

Menurutnya, tidak ada artinya bila senang membaca, tapi dengan alasan yang salah. Bagi Dee, membaca juga harus memperhatikan ekosistemnya, bukan sekadar fokus pada kontennya. “Kalau cuma peduli konten tanpa ekosistem, konten akan mati dengan sendirinya. Bagaimana mau maju dan berkembang kalau dipalak terus oleh pembajakan,” tegasnya.


Novel musik

Penulis heksalogi Supernova ini baru saja menyelesaikan kelas daringnya yang bertajuk Kaizen Writing Workshop. Lokakarya penulisan dengan metode yang biasa digunakan Dee itu dibuka hingga dua batch dan kini ia akan rehat sejenak untuk membuat lokakarya.

“Saya mau break dulu beberapa bulan. Bikin workshop kemarin itu kan intens persiapannya. Saya sempat off dulu dari menulis karena mempersiapkan workshop. Sekarang balik nulis lagi, istirahat, mungkin nanti Agustus akan ada lagi.”

Saat ini, penulis yang juga penyanyi ini pun tengah menelusuri buku-buku yang memuat literasi musik serta karya-karya yang bercerita tentang musik. Ia menyebutkan saat ini tengah menulis novel tentang musik.

“Sebelum mulai pandemi, aku lagi senang banget menyendiri dan membaca. Yang paling terakhir aku baca buku tentang
genetika dan sampai sekarang lagi kubaca pelan-pelan. Lagi nulis novel tentang musik juga. Jadi, lagi baca-baca literatur tentang musik, ngeband, bagaimana penulis lain bicara musik, seperti apa.” (M-4)

 

BERITA TERKAIT