18 May 2020, 20:40 WIB

Upaya Bangsa Mongol Atasi Gagap Budaya


Abdillah Marzuqi | Weekend

PERSOALAN gagap budaya (culture shock) dalam suatu masyarakat perlu diatasi sebelum masuk dalam tahap berikutnya yakni adaptasi maupun akulturasi. Beragam cara bisa dilakukan, seperti simulasi budaya bagi seorang yang hendak masuk dalam cara hidup sebuah tata budaya baru.

Seperti yang terjadi pada masyarakat Mongolia. Para penggembala yang biasa hidup berpindah (nomad, momaden) ini, mungkin tidak asing dengan kehidupan kota, namun tidak untuk menjalani hidup ala urban.

Untuk mengurangi risiko gagap budaya, maka dibuatkah GerHub community centre di Ulaanbaatar. Fasilitas itu didesain mirip dengan ger atau yurt (rumah tenda) yang biasa ditinggali masyarakat Mongol. Menilik sejarahnya, tenda-tenda portabel menjadi model rumah yang digunakan para penggembala Mongolia selama ribuan tahun. Gers terbuat dari rangka kayu yang ditutupi kain dan kanvas. Di sisi lain, pola pikir nomadik berbasis tenda bukanlah sesuatu yang mudah dilepaskan ketika para penggembala pindah ke kota.

"Mongolia adalah negara dengan kepadatan penduduk paling rendah di dunia," kata Badruun Gardi yang tumbuh di Ulaanbaatar seperti dikutip The Guardian, Senin (18/5)

Gardi mendirikan GerHub pada 2016. Lembaga nirlaba itu ditujukan untuk membantu warga Mongol agar lebih mudah menyesuaikan diri dengan tantangan kehidupan perkotaan.

“Ketika Anda seorang penggembala, Anda dapat pergi bermil-mil tanpa bersingungan dengan keluarga lain. Anda tidak perlu memikirkan apa artinya hidup di ruang terbatas dengan ratusan atau ribuan orang. Ini tantangan terbesar yang kita hadapi sebagai sebuah negara," tambahnya.

Bagi bangsa pengembala, menetap adalah gagasan aneh, apalagi berkenaan dengan kota. Pendahulu bangsa Mongolia, Jenghis Khan, memerintah kerajaannya dari sebuah yurt selebar sembilan meter pada abad ke-13.

Ulaanbaatar dulunya merupakan pemukiman nomaden terdiri dari ribuan tenda dengan satu biara yang menjadi pusat. Ribuan tenda itu mengikuti kawanan ternak yang bisa berpindah kemanapun. Pada 1920-an, Soviet meresmikan wilayah itu sebagai ibu kota. Namanya pun diubah dari Urga menjadi Ulaanbaatar yang berarti Pahlawan Merah. Mereka lalu mengubahnya menjadi sebuah kota.

Dalam beberapa tahun terakhir, ribuan orang berbondong ke kota. Perpindahan itu didorong berkurangnya lahan ternak dan janji kehidupan lebih baik di kota. Masalahnya, penyesuaian dari kehidupan padang rumput ke kota besar tidak semudah membalik telapak tangan. Mereka butuh waktu untuk membiasakan diri.

Datang ke kota, mereka tinggal di Distrik ger. Wilayah pinggiran itu diisi banyak ger, sehingga lingkungan sekitar ger tidak berupa hamparan padang rumput, tetapi petak-petak yang dibatasi pagar setinggi dua meter. Warga harus membayar iuran air dan bahan bakar, tergantung pengangkutan dan pengelolaan limbah mereka.

Dari situ, mereka memahami bahwa tindakan individu berdampak pada orang lain. Bisa jadi hal itu adalah pertama kalinya dalam hidup mereka ketika menghadapi masalah umum yang menjadi tanggung jawab kolektif.

Selain masalah pola pikir, warga juga dihadapkan pada sejumlah masalah teknis, seperti: tidak ada aliran air, listrik, saluran pembuangan limbah, ataupun pemanas sentral. Padahal suhu bisa mencapai -40C saat musim dingin. Warga biasanya menggunakan batu bara sebagai sumber panas. Satu rumah bisa menghabiskan sekitar 3-5 ton batu bara. Hal itu pun memunculkan masalah lingkungan. Ulaanbaatar menjadi salah satu kota dengan predikat paling tercemar di dunia.

“Ada yang cenderung menganggap wilayah ger sebagai kawasan pinggiran yang kumuh,” kata Gardi.

Padahal, menurutnya, warga di wilayah itu menempati 60% dari seluruh populasi kota dan bertambah 30 ribu orang setiap tahun. GerHub berdiri untuk mengembalikan kebanggaan mereka pada ger. (M-4)

BERITA TERKAIT