18 May 2020, 10:40 WIB

Dompet Dhuafa Bangun Ketahanan Pangan Berbasis Pesantren


Deri Dahuri | Nusantara

DOMPET Dhuafa (DD) sebagai lembaga pemberdaya memandang optimalisasi potensi lokal dalam rangka antisipasi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menjadi perhatian besar yang harus terus dibangun. 

Pengembalian budaya dan kearifan lokal di bidang pertanian dan peternakan berbasis komunitas masyarakat sangat penting untuk program berkelanjutan. Dompet Dhuafa melihat ini sebagai hal utama yang harus menjadi fokus pengembangannya.

Dalam rangka mengembangkan sumber daya pangan untuk kebutuhan pokok masyarakat, maka perlu dijalin kolaborasi besar yang berdaya saing kuat, agar tercipta peluang-peluang kemakmuran bagi mereka. 

“Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdaya berbasis pengelolaan dana ziswaf sangat mendukung pengembangan potensi masyarakat pesantren di pedesaan," ujar Guntur Subagja selaku Direktur Social Enterprise DD, pada pers rilisnya, Senin (18/5).

"Kita perlu mendukung dan mendorong terciptanya usaha-usaha yang mengarah pada pengembangan potensi ekonomi masyarakat. Sektor riil pertanian sebagai usaha dasar masyarakat Indonesia dan menjadi kebutuhan pokok sehari-hari harus terus dibudidayakan," kata Guntur.

Menurut Guntur, kondisi Pemberlakuan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat masyarakat aktif di dunia digital, ini menjadi peluang berbagi ilmu dalam keseharian kita yang juga dapat menciptakan captive market bagi hasil produksi masyarakat.

Dompet Dhuafa melalui Social Trust Fund (STF) bersama OK OCE dan Pondok Pesantren Alam (PPA) Al Muhtadin membangun sinergi Ketahanan Pangan di Desa Ciracap, Sukabumi, Jawa Barat, dalam masa pandemi ini sebagai program ketahanan pangan yang berbasis masyarakat pesantren dan petani binaan. Sebagai solusi atasi dampak pandemi Covid-19 di desa.

"Kerja sama ini mencakup luas kurang lebih 50 ha sawah irigasi dengan 10 kelompok tani binaan. Dan setiap kelompok terdiri atas 10-20 KK. Dengan hasil maksimal per hektar di kisaran 6-7ton sekali panen dalam kurun 3 bulan. Sehingga dalam setahun bisa produksi 3 kali. Dengan asumsi 7 ton x 50 ha x 3 kali, sekitar 1050 ton per tahunnya. Semuanya dikelola oleh para santri dan petani pemberdaya," terang Guntur.

Dengan kolaborasi besar di tengah suasana pandemi akibat Covid-19 yang cukup panjang ini bisa menjadi solusi bagi masyarakat luas. Guntur berharap dengan hasil produksi yang bagus dapat menciptakan lapangan kerja dan kemandirian ekonomi bagi masyarakat pedesaan. (RO/OL-09)

 

BERITA TERKAIT