18 May 2020, 06:20 WIB

Keutamaan Lailatulkadar


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

KEUTAMAAN lailatulkadar bisa dilihat dari bagaimana para nabi sebelum Nabi Muhammad menanggapi peristiwa lailatulkadar. Ketika Nabi Muhammad SAW memimpin salat berjemaah yang makmumnya para nabi di Baitul Maqdis, Palestina, menjelang mikraj ke langit, para nabi memohon untuk dihidupkan kembali secara normal di muka Bumi, meskipun hanya sebagai umat biasa dan tunduk kepada ajaran Islam.

Rahasia di balik permohonan itu ialah keberadaan lailatulkadar yang tidak pernah ada sebelum umat Nabi Muhammad. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan Tuhan.

Mengapa para nabi memandang penting lailatulkadar? Tentu saja mereka melihatnya demikian. Sebab, mereka hidupnya di alam barzah, bagian dari alam gaib, dan menyaksikan betapa sibuk para malaikat langit turun memberikan fasilitas spiritual kepada para manusia.

Keutamaan lailatulkadar di dalam bulan istimewa Ramadan ialah luar biasa, sebagaimana disebutkan dalam ayat, ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar’. (QS Al-Qadr/97:4)

Ayat-ayat di atas bagian dari ayat-ayat yang menceritakan keluarbiasaan malam sebagai waktu untuk menjalin komunikasi aktif dan intensif dengan Allah SWT. Ayat-ayat di atas, seolah-olah lebih menekankan arti penting malam hari daripada siang hari, meskipun siang hari Ramadan itu kita mengerjakan puasa wajib.

Itulah sebabnya para sahabat dan para ulama yang memahami rahasia keutamaan malam Ramadan lebih banyak begadang di malam harinya. Mereka mengerjakan berbagai aktivitas ubudiah untuk meraih berkah dan kemuliaan Ramadan. Begitu pentingnya malam-malam hari Ramadan sehingga pernah ada sahabat yang membentangkan tali dari tiang ke tiang untuk menyangga badannya yang sudah lemah sambil terus melaksanakan salat-salat sunah di malam hari.

Bilangan tertinggi pada masa turunnya Alquran ialah bilangan seribu. Sekiranya ada bilangan triliun seperti saat ini, mungkin redaksi Alquran berbunyi ‘lebih mulia daripada setriliun bulan’. Itulah sebabnya ulama tafsir tidak mengartikan kata alfun dalam ayat di atas dengan ‘seribu’, tetapi ribuan atau beribu-ribu bulan atau unlimited, tanpa batas.

Di sini bukan angka-angka yang amat penting, melainkan kualitas dan intensitas waktu itu. Ini bisa dimengerti dan dirasakan bahwa memang malam hari menampilkan kegelapan. Akan tetapi, bukankah kegelapan menjanjikan ketenangan, keteduhan, keakraban, kepasrahan, kerinduan, kehangatan, kesyahduan, dan kekhusyukan.

Sebaiknya, kita lebih bersahabat dengan rahasia malam hari agar kita bisa memperoleh keberkahan hidup yang luar biasa. Alangkah ruginya
kita yang sudah menjadi umat Nabi Muhammad, tetapi masih menyianyiakan dan membiarkan peristiwa dahsyat lailatulqadr berlalu begitu saja. Alangkah ruginya kita tidak memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyiapkan bekal hidup akhirat kita.

Seandainya hidup kita dikaruniai umur panjang, misalnya 70 tahun, kita akan melewati 70 kali momen lailatulqadr. Jika dipotong usia masa kanak-anak yang belum mukalaf 15 tahun, usia produktif kita masih ada 55 tahun. Jika dikalikan 1.000 bulan, jumlah usia produktif kita setara
dengan 55.000 bulan atau 4.583 tahun. Luar biasa.

Lailatulqadr tentu saja bukan yang menjadi tujuan utama kita di dalam beribadah, melainkan pemberi motivasi. Komitmen kita semua ibadah kita hanya diperuntukkan memohon rida Allah SWT. Bahkan, termasuk surga juga yang menjadi tujuan kita beribadah kepada-Nya.

Surga dan lailatulqadr merupakan makhluk. Tujuan utama kita ialah Sang Pencipta surga dan lailatulqadr. Wallahualam.

BERITA TERKAIT