18 May 2020, 06:10 WIB

Huruf R


Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group | Opini

SEBUAH huruf yang kini perlu mendapat perhatian serius ialah huruf ‘R’. Inilah huruf yang melambangkan angka reproduksi, kemampuan suatu penyakit menyebar.

Dalam menghadapi pandemi korona, sejumlah negara menjadikan R sebagai salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan kepublikan untuk menetapkan lockdown, maupun kemudian untuk melonggarkannya, bahkan mencabutnya. Pedoman kerja yang digunakan ialah pemerintah berupaya keras agar angka reproduksi itu berhasil ditekan sampai konsisten di bawah 1.

Ketika Inggris menerapkan lockdown pada 24 Maret 2020, angka R sangat tinggi sekitar 3. Setelah 51 hari lockdown, pada 15 Mei 2020, tingkat infeksi itu antara 0,7 dan 1.

Berdasarkan perhitungan Cambridge University School of Clinical Medicine, Kota London sempat mengalami tingkat penyebaran korona terendah (0,4). Apa makna kepublikannya?

Virus dengan R = 1 berkemampuan menyebar ke satu orang. Bila ini yang terjadi, total jumlah orang terinfeksi terkendali konsisten di level tertentu.

Jika R = 3, orang yang pertama terpapar berkemampuan menyebarkan ke tiga orang. Setiap seorang dari tiga yang terpapar itu masing-masing menyebarkan ke tiga orang lagi. Masing-masing dari sembilan orang itu menyebarkan ketiga orang lagi dan begitu seterusnya. Demikianlah bila R lebih dari satu terjadilah apa yang disebut penyebaran eksponensial.

Contoh bagus BBC membuat grafik dengan R = 1,1 terhadap 1.000 orang positif korona. Dalam tempo 60 hari terpapar 25.000 orang. Padahal di dunia sekarang ini ada 4,5 juta orang terjangkit korona. Terbayanglah betapa mengerikannya dampak korona jika angka R tidak berhasil ditekan konsisten di bawah angka 1.

Keinginan untuk melonggarkan PSBB kiranya perlu ditanggapi jujur dan terbuka. Berapa angka R di daerah atau di kota yang tercakup PSBB sehingga pemerintah berani berkesimpulan saatnya melonggarkan PSBB di situ?

Negara yang semula menyatakan diri telah bebas korona ternyata terpapar kembali. Itu terjadi di Korea Selatan, itu pula yang terjadi di Wuhan, Tiongkok, asal mula korona.

Gara-gara adanya tandatanda korona jilid 2 di Wuhan itu, Otoritas Kesehatan Tiongkok memerintahkan tes asam nukleat (nucleic acid) di kota berpenduduk 11 juta.

Contoh lain Jerman. Setelah toko dan sekolah dibuka, angka R naik dari 0,81 menjadi 1,1. Kata Kanselir Angela Merkel, “Fakta-fakta dasar tidak berubah.”

Semua itu kiranya dapat memperkuat dugaan bahwa korona berwatak bergelombang seperti flu spanyol 1918. Tentang perkara ini tak semua pakar sependapat. Bagi yang sependapat, kapan gelombang kedua itu datang? Tak pula bisa menjawabnya. Di tengah ketidakpastian, kiranya tak bijak mengambil kebijakan publik merilekskan norma jaga jarak (seperti terjadi di Bandara Soekarno-Hatta), tanpa menghitung dan menimbang ‘makhluk’ ilmiah bernama R.

Korona ‘betah’ hidup bersama ‘tuan rumahnya’, yakni orang yang terpapar oleh korona. Korona tak buru-buru mencabut nyawa orang itu. Dia pembunuh berdarah dingin. Karena itu, janganlah tergesa melonggarkan PSBB bila R kita belum konsisten di bawah 1.

Selama korona masih beredar entah di mana pun di dunia yang saling terhubungkan ini, sesungguhnya tak ada negara dan tak seorang pun yang tanpa risiko terpapar oleh korona. Vietnam merasa telah aman. Tiga hari lalu (15/5), 24 warganya yang baru pulang dari Rusia harus dikarantina di terminal kedatangan di bandara karena terinfeksi oleh korona.

Bandara terminal orang datang dan pergi. Kita melonggarkannya. Baiklah kita bertanya kepada epidemiologis kita. Berapakah R kita?

BERITA TERKAIT