18 May 2020, 04:35 WIB

Joko Anwar Terbantu Adanya Agen


Fathurrozak | Humaniora

DI Indonesia, setiap pekerja film bekerja secara individual tanpa dinaungi representatif suatu agensi. Kondisi itu berbeda dengan yang terjadi di Hollywood.

Sutradara, penulis naskah, sekaligus produser film Joko Anwar, 44, berharap kelak industri film Indonesia mengadopsi sistem serupa. Menurut Joko, di luar Indonesia, dirinya berada di bawah naungan representatif Creative Agency Artist (CAA) yang berbasis di Los Angeles, Amerika Serikat. 

Agensi tersebut bertugas mencarikan proyek film yang sesuai dengan yang dikehendaki Joko. CAA juga menaungi sutradara Mouly Surya, yang dikabarkan akan menggarap film terbaru produksi Netfl ix dan dibintangi Jessica Alba.

“Kalau misalnya di Indonesia, semua orang yang bekerja di perfi man kan bisa bekerja sendiri, berusaha datang ke rumah produksi atau produser. Di Amerika, semua punya representatif, baik itu aktor, sutradara, maupun penulis. Mereka yang bekerja di film punya agensi yang akan mencarikan pekerjaan yang cocok buat mereka,” ungkapnya saat melakukan siaran langsung di Instagram, Sabtu (16/5).

Sutradara Perempuan Tanah Jahanam itu juga membeberkan setiap minggu ia selalu menerima kiriman naskah dari agennya di CAA. Ketika Joko merasa cocok, tentu nantinya agensi yang akan meneruskan kepada si agen pemilik naskah. Begitu juga bila Joko merasa tidak cocok, agensinya yang akan menolak. Kesepakatan yang dijalin dengan representatifnya ialah hanya proyek yang berasal dari luar Indonesia yang akan ditangani agensi. Adapun proyek-proyek yang ada di Indonesia tidak melalui CAA.

“Tergantung kita kesepakatanya bagaimana. Kalau di awal worldwide harus lewat agensi misalnya, ya berarti harus di bawah agensi. Aku di awal kesepakatannya (film) yang di luar Indonesia lewat mereka,” terangnya.

Selain representatif agensi, para pelaku film di Amerika juga harus memiliki representatif lain, ada manajemen. Bila agensi mengurusi sesuatu yang berhubungan dengan bisnis, manajemen lebih seperti untuk mengatur pertemuan-pertemuan.

Representatif manajemen lebih berhubungan dengan manajemen waktu si pekerja film. Joko juga menyebut pelaku film perlu memiliki peng acara. “Jadi, kerja di LA banyak potongan duitnya. Dipotong agensi, manajemen, lawyer, tapi itu bagus. Kalau mereka enggak cariin, ya juga enggak ada project. Di Amerika, perusahaan film enggak mau bekerja sama kalau enggak ada representatif. Jadi, selalu lewat agensi,” jelas sutradara peraih Piala Citra FFI 2015 ini.

“Enak banget karena merasa diurusin. Di Indonesia enggak ada, semuanya urus sendiri. Mudah-mudahan di Indonesia kayak gitu juga,” sambungnya.


Tetap bekerja

Karena ketiadaan representatif di industri perfi lman dalam negeri itulah, menurut Joko, para pelaku film dan siapa pun yang ingin masuk ke industri ini perlu pintar menjaga jejaring. Itu karena semua bekerja secara individual untuk terlibat dalam suatu proyek. Tidak ada representatif yang berkewajiban mencarikan pekerjaan.

“Aku pernah ngetwit, ‘Kalau mau masuk industri, harus punya network yang baik karena enggak punya agensi. Harus punya skill untuk bisa bangun network sendiri. Harus punya hubungan baik dengan orang film’.”

Saat ini, meski semua produksi berhenti akibat pandemi covid-19, produser kreatif Jagat Sinema Bumilangit ini tetap mengerjakan proyeknya yang tertunda. Seharusnya pada April lalu ia melakukan syuting.

“Sebelum covid-19, itu sudah praproduksi. Ada syuting harusnya April. Karena work from home (wfh), jadi ditangguhkan dulu. Secara resmi berhenti, tapi secara individual tetap kerja. Gue masih kerjain director’s shot, director’s treatment untuk fi lm yang gue direct. Gue juga produseri untuk Bumilangit, ada Sri Asih (Upi Avianto) dan Virgo (Ody C Harahap). Itu lagi persiapan, dua itu meeting-nya masih berjalan.” (M-2)
 

BERITA TERKAIT